Tampilkan postingan dengan label newsletter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label newsletter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2013

EAGLES NEST MINISTRIES



 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Minggu, 15 April 2012

MISSION UPDATE 2012


MISSION UPDATE

2012



After earnest prayer in seeking the mind of Christ, Laurel and I want to update you about a “new season”

into which the Lord is leading us. We have discovered that even as the Lord led the Old and New

Testament believers in “seasons of life”, He continues to do the same today in our lives as well.



For over sixty years, I have served the Lord in the “season” as a pastor (28 years) and in “seasons” as a

missionary (32 years) “sent forth” to the nations. My wife Laurel has served faithfully at my side for all of

the 46 years of our marriage. The Lord has and continues to minister through her in unique gifts as she

has blessed not only me as her husband but everyone else whose life she has touched. She is truly a

Proverbs 31 woman to me!



During our “season” of overseas missionary work we had the joy of serving primarily in Communist,

Muslim, Hindu and Buddhist nations. We learned the importance of God’s “timing” and His “windows”

of opportunity in “opening and closing” doors. As we reflect on His timeliness, we now realize that we

only had one opportunity to enter some of these nations before their doors were closed to us. Recently

toward the end of overseas missionary travels, we began to have our visas denied because the governments

“suspected that we were engaged in Christian missionary activity”.



Now, at the age of 75, the Lord is leading us into yet another “season” of life. And that is to minister

primarily from “our hired house” by receiving and hosting servants from all over the world as Paul the

apostle did in Rome according to Acts 28:16, 23, 30-31: “And when we came to Rome, the centurion

delivered the prisoners to the captain of the guard: but Paul was suffered to dwell by himself with a

soldier that kept him. And when they had appointed him a day, there came many to him in his lodging; to

whom he expounded and testified the kingdom of God, persuading them concerning Jesus, both out of the

law of Moses, and out of the prophets, from morning till evening. And Paul dwelt two whole years in his

own hired house, and received all that came in unto him, preaching the kingdom of God, and teaching

those things which concern the Lord Jesus Christ, with all confidence, no man forbidding him.”



The Lord is directing us now to concentrate on ministering to young servant leaders around the world via

the Internet through the means of our Website, Online “School of Tyrannus”, SKYPE, Blogs, Emails, etc.,

mutually encouraging one another as we are admonished in Hebrews 10:35 “and so much the more, as

ye see the day approaching”.



Also, because of the increasing high cost of overseas travel, it is not the best stewardship of the Lord’s

resources for us to continue to travel abroad. Rather we will encourage those we have already equipped,

to continue to train others within their own boarders and beyond as Paul the apostle wrote in

II Timothy 2:2: “And the things that thou has heard of me among many witnesses, the same commit thou

to faithful men, who shall be able to teach others also”.



One of our greatest joys is to hear from young servants we have previously trained, that they are now

equipping their second and third generation of leaders for the work to which God has called them. Only

eternity will fully reveal the fruit of this continuing ministry of equipping and mentoring for Kingdom

service.



So, while the Internet is still accessible, we need to take greater advantage of this media, especially

SKYPE and our Online “School of Tyrannus”, which are free Internet services, that will enable us to continue

to make ourselves available to young leaders in various nations for dialogue and Q&A in real time where

we can see one another via the live camera. Also, leaders can use this media to equip and train others

within and beyond their own borders.



We purpose in our hearts to continue ministering to our beloved servants until the Lord calls us home or

comes again in His triumphant return!



Thank you for allowing us to share our hearts about our “new season”. We are so grateful for your

prayers and encouragement in helping continue to “to make disciples of all nations.”



In His love and grace,

Dan and Laurel Hubbell

His servants

From “a hired house” (Acts 28:30-31)

Winnsboro, Texas USA

http://www.churchrestoration.org



P.S.

1) If you are led of the Lord to take part in this continuing ministry of Internet equipping and

mentoring, please indicate it by your email response to danh@suddenlink.net

2) Also, please let us know if you have a computer and/or have access to a computer in order

to participate in this online training.



My Life Passage: “For Thou art my hope, O Lord God: Thou art my trust from my youth. By Thee

have I been holden up from the womb: Thou art He that took me out of my mother’s bowels: my

praise shall be continually of Thee. Let my mouth be filled with Thy praise and with Thy honor all

the day. Cast me not off in the time of old age; forsake me not when my strength faileth. But I

will hope continually, and will yet praise Thee more and more. My mouth shall shew forth Thy

righteousness and Thy salvation all the day; for I know not the numbers thereof. I will go in the

strength of the Lord God: I will make mention of Thy righteousness, even of Thine only. O God,

Thou hast taught me from my youth: and hitherto have I declared Thy wondrous works. Now

also when I am old and gray headed, O God, forsake me not; until I have shewed Thy strength

unto this generation, and Thy power to everyone that is to come. Thy righteousness also, O God,

is very high, who hast done great things: O God, who is like unto Thee.” Psalms 71:5-6, 8-9, 14-18

Kamis, 23 Februari 2012

HOW TO HELP?


Friends, Jesus said that ministering to the least is ministering to Him. Love what Roland & Heidi Baker do ( www.iris.min.org ). They take in orphans and teach all of their national leaders, no matter how poor, to do the same. Powerful! But not all walk in the same spirit. A friend who cares for orphans in Brazil commented that if all the church leaders in Brazil would each adopt one, there would be no more kids on the streets. Instead the church leaders were petitioning the government to do something. Poor.

To often leaders in every nation seem more concerned with buildings and sound systems than the poor so we want to do something. One group builds a western style institution with dorms, dining halls, classrooms or maybe single family dwellings in a compound with a school and sports fields. The children have nice beds, showers, quality food, good educational opportunities and it will cost a lot of money. The national partners will run it, of course, but with all that money coming from the west the golden rule will kick in- "He who has the gold makes the rules."

Another group buys plots of land and provides dwellings normal for that culture with no running water or electricity. They provide independence by giving each couple a cow, three goats, a sewing machine, some seeds and a hoe. They are able to support themselves and ten or twelve children in the manner of that culture. They will be independent and will need no further funding from outside. They will live simply and may suffer if there is drought or sickness but they will not develop the resentment that all people begin feel towards those that they are dependent upon. Plus the money needed to run the institutional orphanage for a year for a hundred kids would start another forty or fifty of such families on their way. In ten years you could see 4000 or 5000 kids in loving homes or you could still be caring for the 100 in the institution.

The children from the institutional orphanage will have a tough time going out into their culture and dropping down in their standard of living. Maybe they will get sponsored for further education or maybe even to go to the west. One institution in the west that seeks majority world students in order to train the "future leaders of the nations" found that less than 15% of those trained went back to their home countries. Life in the west is good! But what have we done here? Have we not robbed a nation of its sons and daughters? Have we not taken labourers from that harvest field?

The institution provides a target for terrorists groups to destroy. It provides a focus for anger against the west. It provides a nice facility for corrupt local politicians to confiscate. And the funds given for the orphans are burned to the ground or confiscated. Why did you build those buildings? Yes, to help but maybe there was just a little desire to raise up a monument to your name or ministry? And what happens if the money runs out? Asking that question will get you into trouble. Ask me how I know. What happens? Do the kids get thrown out onto the streets?

The sons and daughters raised in the simple homes never leave their culture. They are not at risk like the kids in the institution if the money stops flowing. They are raised by godly parents to be salt and light in that culture.

Who decided to build the institutional thing? Did the westerner ask what the locals wanted? Yes, the local partners may have wanted the big thing because they saw position & privilege. But if you had really asked them what was best, what do you think they would have said? What would you have heard if you had taken the time to really listen?

My goal is to get you thinking. Caring costs and you want your dollars to count. Maybe you think I just ask questions to get a reputation for being a shit disturber. But these things matter. We can only touch these issues in a short letter but if you want to explore further let me recommend www.whenhelpinghurts.org . And yes, for those of you that were thinking "What did Steve & Marilyn do about this stuff?" In the season before we were gypsies for Jesus, we had three young people come to Jesus from pretty rough backgrounds who came to live in our home. They did so until they got married. Good times with those three and our three in a very modest bungalow.

Responses? Would love to hear from you and especially from friends in the majority world, that is, the NON western world. What do you think? If you like you could place your comments under this article on our website, that way others can read and interact with your thoughts.

No man is so poor as the one, who because he can only do a little, does nothing.
Steve Hill

Rabu, 25 Januari 2012

JANUARY FRIENDS LETTER


Greetings Friends
‎ "My name is Ania, I am 20 years old. Before coming to Christ, my life was a nightmare. Our mother was a drunk,& my sister Ira & I were given wine at 6 years at her parties. We often spent nights in basements and attics of apartment blocks. We drank & smoked marijuana. At age 11, my sister (she is elder) & I were raped in a beastly manner & after that we often thought about suicide. By 13 I was living with a drug addict who beat me & at 14 I had Umed, my baby boy. When my boyfriend went to jail & my sister & I had no money for food, we prostituted ourselves. Eventually we hit bottom & didnt want to live. It was only because of my son that I did not commit suicide. At the end of 2010 uncle Sergey came to us & started talking about Jesus. We repented & received Him & our lives have changed. We started learning to read & write & now we can read the Bible by ourselves. In the summer of 2011 we were water baptized & now we are serving girls who are like we were in the past. We gather girls and boys from the streets, hold fellowship with them & talk about Jesus. There are some who have received Him. Now we are praying for a home. We have been through a tragic life and understand them. Whoever reads my testimony, please pray over my sister and me, so that we would be able to lead many addicted girls and prostitutes to Christ. Blessings to you in the Lord, Ania and Ira"

Yes, Jesus changes lives and we have the privilege of partnering with our friends there as He does so. The story above is from Tajikistan. Will you pray with them for a home? Our friends in Kazakhstan have just started their second "Doma Mira" (House of Peace) residential community.

Friends in Pakistan want to translate "The Luke 10 Manual" into Urdu, Punjabi and Pashtu and give a copy to all the church leaders in Pakistan, Saqib "My soul has a great passion to change the mind set of all these brothers and sisters who are wasting their energies and resources trying to build western style Mega Churches." They can print for under $2.50 per copy and will start with 2,000 in Urdu. Will you pray about helping with this project? Western governments have spent billions combating terrorists. Let us help release a wave of Jesus followers.

A Burmese friend will publish 1,000 in Burmese and we need help with that project as well. Their cost is $2.00/copy. The Norwegian version came out last fall and one friend there said it was the most important book he has ever read! Not sure I would say that but it does pack a punch. Another Norwegian friend paid double for the book, "It was worth a double!" Need a Norwegian copy? Contact Inger at ingerjek@gmail.com

To order the English version of Luke 10 go to www.harvest-now.org and click on the book and Lulu will send you your order.

Opportunities are growing and so are the challenges.
We appreciate your friendship, prayers and partnership in putting the go in the gospel.
Steve & Marilyn

www.harvest-now.org
www.harvest-now.org

Selasa, 27 April 2010

Friends Letter April 2010


Hello Friends
As most of you know, Kyrgyzstan has had a change of government after opposition protesters were shot at by troops and police using live ammunition. The opposition fought back and police are among the 100 dead and the many wounded. Due to wide spread destruction and looting, a poor country is much poorer and economic uncertainty has increased. The provisional government is in charge and things are now generally calm. Some report that the interim government leader, Rosa Otunbayeva is a follower of Jesus. I Timothy 2:1- 4 takes on a new urgency in such times!

One of the KG friends reports hearts open to Jesus as they visit families who have lost loved ones and as they visit those in hospital and seek to find the medicines that they need. Another friend and her team in the east of the country have begun relationships with three more houses of peace and baptized two more households.

The friends from Tajikistan report that they took four addicts into their house of peace who had decided to become followers of Jesus. "We prayed for them and they all came through deliverance without cold turkey effect. It is a miracle of the Lord. Jesus has also healed liver and breathing system." On a very sombre they also note that many addicts are dying of overdoses so that there is a lot of work to do.

A new follower of Jesus tells her story how she was visiting family when they began to talk to her about Jesus. She was frightened that they should pray to any one than Allah but their story of freedom caught her attention. She says that while listening "I felt immediately pain in my kidneys and fell down. The couple got scared of course. I was crooked with pain and meanwhile heard them praying. Isa Tenir, (Jesus help us), touching the painful place, and then the pain was gone. In the night, I had a dream that lots of mineral water was brought to our home. Then a man in white robes came up to me, opened up a bottle of water and poured some in my cup telling me to drink. I recalled how thirsty I was and drank it, while thinking how I could share the water with my parents and neigbours because there is no water in our wells. In the morning I shared about the dream and they read me a place from the Bible where Jesus was talking to a woman at the well. I was amazed and ever since I am following Jesus. I need to understand a lot and grow. Now I am praying so that I can serve because a lot of people need salvation and deliverance. I am also praying for my relatives and other villages to be saved."

Over the next few weeks Marilyn and I will be in Norway for the first time and then back to Ukraine. We are looking forward to sharing with our friends there after a two year absence.

Thank you for your prayer and support.
These are your stories as well!
Steve & Marilyn Hill
_____________________________________________________

www.harvest-now.org

North America
35 Colony Trail Blvd
Holland Landing ON L9N 1C6
+1.905.836.8943

Europe
Hoenderhoeve 23
Houten 3992 XK, NL
+31.30.638.4377

Jumat, 27 Februari 2009

EAGLES NEST MINISTRIES 2009


EAGLES NEST MINISTRIES 2009

Memasuki tahun ke dua kami di Bandung merupakan sukacita kami bisa ada di kota ini. Banyak perkara dan hal yang diizinkan Tuhan untuk kami kerjakan disini melalui caraNYA. Acap kali kami hendak melakukan sebuah pekerjaan dengan kemampuan atau pengalaman kami di masa lalu. Tuhan menegur kami dan membimbing kami, untuk sungguh-sungguh melakukan apa yang Bapa sedang kerjakan, menyatakan apa yang Bapa nyatakan.

Dua tahun terakhir ini dengan dana terbatas yang ada kami mengontrak dua buah kamar tempat kost untuk menjadi tempat tinggal sekaligus “kantor” pelayanan kami. Satu kamar sebagai kamar tidur dan sebuah lagi sebagai ruang kerja sekaligus ruang tamu (kadang kami alih fungsikan bagi tamu dari luar kota maupun luar negeri yang mau menginap di istana kami).

Dalam keterbatasan sekalipun kami melihat penyertaan Tuhan, dikala keuangan menjadi kendala pelayanan. Tuhan selalu memiliki dan membuka jalan bagi anak-anakNya yang mencari Dia dalam ketulusan. Kala orang lain tengah frustasi dan mengeluh kekurangan dana untuk mengembangkan pelayanan, kami yang sama sekali tidak memiliki fasilitas memulai pelayanan sebagai penulis lepas dari beberapa media Kristen yang ada secara “cuma-cuma”. Kami hanya menabur saja benih Firman Tuhan tanpa pamrih. Ketika kami coba membina hubungan dengan beberapa anggota tubuh Kristus untuk berjejaring dan bekerjasama kami seolah membentur tembok penolakan. No hard feelings, kami menyadari terkadang “kehidupan pelayanan atau gereja” dewasa ini “kurang sehat”. Gereja atau pelayanan menjadi seolah “perusahaan rohani” hingga menggunakan sistem franchise, sistem merger atau bahkan diambil alih oleh “organisasi gereja yang lebih besar”. Ketika di suatu daerah sudah ada “gereja A”, biasanya ada saja “gereja lain” masuk ke wilayah tersebut. Seandainya masuk ke wilayah yang sama dan menjangkau jiwa-jiwa belum percaya atau belum bergereja nampaknya bukanlah suatu cela. Namun bila masuk ke sana dan lalu menyedot jemaat dari “gereja A” maka ini merupakan cela dalam pelayanan gereja. Kita seharusnya saling membangun dan menolong bukan menjatuhkan seperti itu. Kita melayani Tuhan demi kepentingan KerajaanNya...demi kepentingan GerejaNya...bukan kerajaan dan gereja kita.
Hingga saat kita dengan tulus ingin membangun jaringan pelayanan dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, kita dipandang sebagai kompetitor baru. Harap dicatat maksud dan tujuan kami disini bukanlah hendak mempersatukan semua gereja dan pelayanan dalam “satu atap organisasi”. Kami rindu semua organisasi gereja dan pelayanan dapat berjejaring untuk tujuan ilahi, karena kita satu tubuh dan Tuhan Yesus sajalah Kepala kita.
Saya dapat berkata begitu sebab dulu saya pernah ada dalam pola pikir yang sama. Saat saya menggembalakan jemaat di Surabaya, yang ada dalam benak saya adalah bagaimana “gereja saya” bisa berkembang dan memiliki pengikut yang makin bertumbuh & banyak jumlahnya. Jangan sampai jemaat saya pindah gereja lain sebab itu dapat merugikan income kami. Kebanggaan saya sebagai “pendeta” kala itu adalah seberapa besar jumlah jemaat saya, berapa besar gedung gereja saya, berapa cabang gereja saya, berapa banyak kelompok kecil saya yang bertumbuh dan bertambah , berapa pemimpin baru yang saya hasilkan, berapa petobat baru yang kami hasilkan, dstnya..dstnya. Pusatnya adalah saya, gereja saya.
Di kala gereja kami kala itu mencapai titik jenuh dan mulai tidak bertumbuh atau bertambah, dan “gereja-gereja lain” mulai buka cabang di sekitar kami. Maka saya pun berdoa untuk “kebangunan/kebangkitan rohani”, motivasi saya sebenarnya adalah agar “gereja saya” bertambah jumlah anggotanya dan “saya” menjadi tokoh kebangunan rohani itu. Semua saya lakukan karena merasa pelayanan gereja sudah mulai “macet” dan sekarang ada kompetitor yang siap merebut “jemaat kami” masuk ke dalam “gereja mereka”.Jadi bukan sekedar ingin melihat orang percaya bertumbuh dalam Tuhan namun ingin “punya nama dan pelayanan besar”. Dulu saya katakan untuk “kemuliaan Tuhan”, namun sadar atau tidak, dalam hati yang terdalam harus diakui itu semua untuk “kebanggaan diri sendiri”. Keinginan diakui sebagai pendeta yang berhasil.
Hingga suatu hari saya tertempelak saat tengah berdoa bahwa seharusnya saya membangun “Gereja Tuhan”, bukan gereja saya. Yesus-lah Gembala yang baik dan agung, saya hanyalah hambaNya yang membantu menggembalakan umatNya semakin mengenal pribadiNya. Mengapa saya mendoakan agar terjadi “kebangunan/kebangkitan rohani”? Bila Yesus adalah pokok anggur dan kita carangnya, seharusnya kita senantiasa hidup di dalam Dia (Yohanes 15). Kalau gereja yang saya gembalakan “mati”, jangan-jangan karena itu “gereja saya” dan bukannya “Gereja Tuhan” yang seharusnya senantiasa melekat dengan Kristus Yesus.

Dalam keterbatasan dana yang ada, kami berdoa apa yang harus dan dapat kami kerjakan. Sebagaimana anak kecil yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan pada Tuhan Yesus untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15), begitu pula kami dengan jumlah uang yang mungkin bagi sementara orang tidak ada artinya, datang padaNya. Lalu Tuhan ingatkan bahwa Ia sanggup memberi makan 5000 orang dengan melipatgandakan apa yang kami miliki. Akhirnya Tuhan membimbing kami melayani melalui dunia maya. Kami sempat menggunakan koneksi “W” untuk akses internet di rumah namun kadang terkendala dengan sambungan internet yang lambat. Hingga akhirnya kami menggunakan jasa warnet untuk memperlebar Kerajaan Tuhan dan memuridkan bangsa-bangsa.
Saat kami pertama kali melakukan pelayanan dunia maya, kami ini ditertawakan dan dicibir, namun saat pelayanan kami mulai berkembang, “seperti biasa” mendadak semua melakukan hal yang sama.
Bagi kami melihat kejadian tersebut satu kata yang keluar dari mulut kami, Haleluya, akhirnya ada lebih banyak orang digerakkan Tuhan untuk melakukan penjangkauan, penginjilan, pengajaran, sekolah Alkitab, memperlengkapi umat Tuhan dan masih banyak hal lagi melalui dunia maya.

Kami bersyukur melalui salah satu website pertemanan Facebook, kami dapat terhubung kembali dengan banyak teman-teman lama (SMPK Bahureksa, SMAK Dago, STBA Yapari, INTEL, geng Moonraker,dll), rekan-rekan seperjuangan dalam pelayanan (Cornelius Wing, Jonathan Pattiasina, Samuel Saputra, Franky Sihombing, Melanie Pedro, Roger Thoman, Jammie Bakker, Shelley Lubben, Morria Nickels, Frank Viola, Neil Cole, Robert Ricchiardelli dll) , anak-anak rohaniku maupun teman-teman baru bahkan keluarga besarku. Luar biasa sekali!

Puji Tuhan, bahwa salah satu pelayanan kami, Eagles Nest Online Bible School yang sederhana dapat berkembang dalam hitungan bulan kini bukan hanya diikuti oleh saudara-saudara seiman di Indonesia namun juga Singapura. Ini merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Sungguh Tuhan menguatkan kami, sebab kala kami memulai Sekolah Alkitab gratis ini, orang-orang pun terheran-heran. Mengapa kamu tidak menarik biaya para siswa/murid yang mau belajar? Alasan kami sebab Tuhan Yesus tidak pernah menagih uang sekolah dari para muridNya. Maka saya pun tidak akan menagih biaya apa-apa, kecuali para murid digerakkan oleh Tuhan dan ingin memberi dengan sukacita. Bagi kami yang terpenting adalah mereka yang menjadi siswa, mempelajari, menghidupi kebenaran dan memuridkan orang lain lagi. Sekolah ini bukan tentang mencari uang tetapi mencari Tuhan. Bila pun ada orang yang mengambil bahan ini secara cuma—cuma bagi kelompok kecilnya atau pemuridan di organisasi gerejanya atau untuk dipelajari sendiri,asalkan orang tersebut bertumbuh dan makin cinta Tuhan. Maka tugas kami sebagai pendidik dan pengajar berhasil. (Catatan: Ini merupakan “keyakinan” kami, jadi bila Sekolah Alkitab atau STT anda menarik biaya tidak ada tujuan kami sedikitpun “menyerang” lembaga anda. God bless you)

Kini kami tengah berdoa untuk sebuah tempat/rumah yang cukup besar untuk kami gunakan sebagai tempat untuk menjadi pusat studi dan pembelajaran yang kami beri nama PUSAT PEMBELAJARAN & PENGEMBANGAN KOMUNITAS (P3K) atau COMMUNITY STUDIES & DEVELOPMENT CENTER (CSDC). Kami telah memiliki sekitar 1000 judul buku rohani, puluhan buku sekuler dari berbagai latar belakang ilmu, beberapa ratus judul kaset/CD/VCD khotbah & pengajaran dimana kami hendak membuat perpustakaan bagi tubuh Kristus hingga kita semua dapat belajar untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Sebenarnya ini merupakan koleksi pribadi yang saya sangat sayangi namun apa artinya bila semua buku itu hanya disimpan di lemari, lebih baik dibuka bagi mereka yang mau belajar dan bertumbuh dalam Tuhan untuk menjadi dampak bagi sekitarnya.

Kami juga rindu untuk mengadakan lebih banyak pelatihan untuk memperlengkapi tubuh Kristus secara interdenominasi tanpa memandang asal muasal denominasinya. Kami rindu untuk memperlengkapi setiap orang kudus untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dunia ini membutuhkan kita sebagai “garam dan terang di muka bumi ini”. Hati kami rindu melihat orang percaya tidak hanya “jago kandang”, nampak luar biasa di dalam gedung gereja namun saat di luar “melempem” (tidak ada dampaknya).
Selama hampir dua tahun ini, kami memperlengkapi “orang kudus” di tempat umum (cafe, rumah makan, warung lesehan, rumah orang yang kami layani, bahkan di pinggir jalan) atau di salah satu kamar yang kami sewa. Kami belum memiliki dana untuk menyewa tempat khusus atau membeli rumah, namun satu perkara yang indah adalah Tuhan ada di tengah kami. Kami tidak ingin dibatasi oleh fasilitas yang belum kami miliki dan membatasi Roh Kudus untuk bekerja di tengah kami.

Dari pelayanan The Body Building (Pelayanan jejaring kami). Puji Tuhan, pada bulan April dan Mei ini kami akan mengadakan camp Father Heart and Sonship bersama pelayanan Zoe Ministries Malaysia, yang dipimpin Pr Christopher K. Camp ini akan diadakan di dua kota yaitu Surabaya dan Bandung. Selebihnya kami akan melayani bersama beliau di Probolinggo dan Jember di beberapa organisasi gereja yang membuka diri. Apa yang orang pandang tidak mungkin, menjadi selalu mungkin bila Tuhan yang telah menetapkan.

Beberapa rekan lain, seperti Robert Fitts (Uncle Bob) dari Outreach Fellowship International dan Roger Thoman dari Appleseed Ministries juga merencanakan untuk datang ke Indonesia untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka kerjakan atau bantu untuk Indonesia. Kami mungkin tidak punya apa-apa namun kami ini “milik” Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Bersama kedua rekan senior saya di atas kami tengah berdoa agar gereja dapat berdampak dalam masyarakat bukan hanya sekedar secara rohani namun juga secara holistik. Meski mereka mengenal Kristus Yesus sebagai Tuhan mereka. Namun bila kita tidak menolong mereka untuk pulih secara kejiwaan dan secara finansial bangkit, maka kita akan melihat jiwa-jiwa ini hidup dalam kebiasaan lama mereka.
Beberapa tahun lalu, kami banyak memenangkan jiwa atas kasih karunia Roh Kudus dan sesekali memberikan bantuan sembako atau pengobatan gratis secara periodik. Petama-tama, kami puas melihat jiwa-jiwa diselamatkan dan kami dapat “melakukan perbuatan baik” dengan memberikan sumbangan dalam bentuk sembako maupun medis. Namun bila kami melihat dari dekat, tidak banyak perubahan yang signifikan secara holistik, kadang mereka berkompromi lagi dengan pola dunia atau cara hidup yang lama akibat kesulitan hidup. Mereka tidak hanya butuh hal rohani, mereka juga butuh pemenuhan kebutuhan kejiwaan maupun jasmani.
Mereka yang sempat kami layani adalah mantan pengedar narkoba, bandar judi, pelacur, anak geng/mafia, paranormal, kasus curanmor, anak jalanan, petani miskin, mantan napi dan yang sejenisnya.
Sebab kami kala itu sebagai gereja Tuhan, hanya tertarik pada “jumlah yang diselamatkan” lalu meninggalkan mereka. Persis seperti orangtua yang tidak bertanggungjawab, setelah melahirkan seorang anak ditinggalkan begitu saja, hanya sesekali ditengok itupun kalau tidak lupa. Saya sangat menyesali kebodohan saya kala itu sebagai seorang pemimpin dan “ayah rohani”.
Untuk kesekian kalinya Tuhan menegur kami, hingga paradigma pelayanan kami berubah dan kini kami mau melayani secara lengkap, sebuah pelayanan holistik yang menyentuh rohani, kejiwaan dan jasmani mereka. Kini kami melihat jiwa-jiwa ini sebagai pribadi yang unik. Kami tidak mau lagi melihat mereka sebagai sekedar jumlah bilangan atau proyek pelayanan.Bukan masalah berapa banyak jiwa, namun berapa orang yang dapat kami bimbing dan bawa terus bertumbuh dalam Tuhan hingga ia dapat menjadi terang dan garam bagi rekan-rekannya “di masa lalu”. Kini kami fokus di dalam memuridkan mereka yang telah mengenal Kristus Yesus secara holistik.

Bagi sementara orang, yang seperti biasa menjadi “pengamat rohani”, kami ini nekat katanya. Memang tipis nampaknya antara hidup nekat dan beriman pada Tuhan bagi sebagian orang. Dalam ketiadaan dana dan donatur sekalipun, kami tetap mau taat padaNya. Entah ada yang memback-up kami atau tidak, kami tidak ambil pusing. Kami melihat pelayanan ini sebagai bagian hidup kami dan bukan pekerjaan apalagi mesin untuk menghasilkan uang. Ini adalah visi dan misi keluarga kami. Ketika ada orang-orang yang mau berjuang bersama kami, puji Tuhan, sekalipun tidak ada, tidak masalah sebab Tuhan beserta kami, Ia adalah Immanuel. No hard feelings, Brothers and Sisters. Kita sama-sama membangun tubuh Kristus. Kita mau taat untuk mengerjakan bagian kita dalam arahan Dia. Kami sudah belajar makna hidup dalam kelimpahan maupun kekurangan, kami belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Kami belajar untuk melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan, melihat situasi seberat apa pun secara positif. Sebagai sebuah kesempatan dimana Tuhan ingin membentuk karakter kami makin segambar dengan Kristus.

Sebuah lembaga gereja dan pelayanan bernama United Christian Faith Ministries (UCFM) dari Amerika Serikat pun menahbiskan saya, Dave Broos, sebagai UCFM ordained minister mereka untuk wilayah regional 11 Asia pada tanggal 22 Februari 2009 lalu. Ini juga di luar dugaan bahwa pelayanan kami mendapat apresiasi dan pengakuan dari rekan-rekan di sana. Puji Tuhan, kini kami bisa berjejaring dengan rekan tubuh Kristus lebih luas lagi dan kami bersukacita atas hal tersebut. Maz 133.

Kini yayasan yang dahulu kami dirikan di Surabaya, Yayasan Pelayanan Cinta Kasih Bangsa (YPCKB), pada November 1998 rupanya dikembalikan kembali untuk dikelola oleh kami. Kami sempat mengundurkan diri dari yayasan tersebut pada tahun 2005 akibat terjadi apa yang saya sebut sebagai “politik dalam pelayanan”. Kini kami tengah berembuk dengan beberapa rekan sekerja di Surabaya dan anak-anak rohani kami di sana bagaimana solusi terbaiknya. Kerinduan kami yayasan ini dapat menjadi alat Tuhan kembali setelah sempat “mati suri” sepeninggal kami kala itu. Tolong dukung doa agar permasalahan pajak yang sempat terbengkalai beberapa tahun terakhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Dukung doa agar rekan saya, Onggo Susilo, yang saya percayakan untuk mengambil kemudi yayasan ini di Surabaya dapat secara optimal menjadi terang berkat di sana.

Pada bulan April ini pun , kami akan mengadakan pelayanan bersama badan missi Open Doors. Kami melayani bersama OD, sebab kerinduan hati kami sama untuk melihat Amanat Agung terjadi di muka bumi dan kita sebagai satu tubuh Kristus bekerja bersama-sama menanggung beban terutama bagi anggota tubuh/gereja yang teraniaya. Sebagai salah seorang volunteer OD di Bandung, kami sangat gembira dapat berjejaring dan bekerjasama memperluas Kerajaan Tuhan. Kami berdoa agar organisasi gereja di Bandung mau membuka diri dan perduli terhadap gereja Tuhan teraniaya di muka bumi ini.

Dukung doa juga untuk istri saya, Novie, yang saat ini tengah menjabat ketua PA Haleluya (Persekutuan para orangtua murid di Lembaga Pendidikan Baptis Bandung). Agar perubahan yang Tuhan kehendaki dan regenerasi dapat terjadi dalam persekutuan ini. Ada banyak tantangan dari muka lama yang tidak menyukai perubahan-perubahan. Ini sudah bagian sejarah kekristenan dimana mereka yang dulu merupakan bagian movement (kegerakan) kemudian membuat monument (monumen). Hingga saat Tuhan ingin membuat pergerakan lagi, ia tidak mau bergerak sebab sudah mapan. Ketika Tuhan memakai orang lain (apalagi yang lebih muda), tanpa sadar mereka menganiaya orang yang mau mentaati Tuhan tersebut. Mengapa? Orang yang merasa dirinya “pendiri” kadang terusik dikala ada seorang baru yang menarik perhatian “massa”nya. Persis seperti Orang Farisi terusik dengan pelayanan Tuhan Yesus. Kita sebagai anak-anakNya pasti akan mangalami hal seperti itu juga. (Yoh 15:20)

Simple Church Network, pun telah mengadakan pertemuan di rumah-rumah atau kadang juga di tempat umum. Suatu kumpulan murid yang belajar bersama-sama, berdiskusi, membicarakan permasalahan dalam kehidupan, saling menasehati, membantu dan berdoa. Ada banyak orang yang enggan ke gereja (karena berbagai alasan) maka kami membawa gereja ke tengah mereka. Kami coba belajar menghidupi pola gereja mula-mula yang ada dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Matius 18:20. Kadang kami hanya melayani satu jiwa, kadang satu keluarga, kadang satu kelompok, kadang satu komunitas besar, intinya kami tidak perduli berapa banyak yang kami layani. Lebih baik melayani satu jiwa yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan (ingin menjadi murid Kristus) daripada satu gereja atau komunitas besar yang hanya suka khotbah “ice cream” dan berdoa “give me..give me, blessed me blessed me”.


THE EAGLES NEST MINISTRIES:


THE BROOS FAMILY