Tampilkan postingan dengan label E-BOOK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-BOOK. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

CLOSE YOUR CHURCH FOR GOD

Close Your Church for Good

By
Church Closed TodayI’m writing a book called Close Your Church for Good. The goal of the book is to help churches and pastors move themselves and their congregations in a missional direction that will help them live and operate according to the principles of the Kingdom of God.
In Close your Church for Good, I don’t want your church to shut down and cease to exist; I want to it to rise up and be all that Jesus intends.
When will the book be out? Well, my current word count is 50,000 words, and I am about 2/3 done. But I am running into problems on some of the later chapters, so… who knows how long it will take to finish…

But you don’t have to wait!

I am actually writing this book online. I make 3-4 posts per week which are based on the content of the book. While the final edition will not be exactly like these posts, the posts still provide the general idea and thought flow of the book.
In other words, whether I get the book published or not, you can still read a rough version of it right here on the Till He Comes blog.

Why am I posting the book online?

For several reasons.
First, free is the new business model. Besides, I am not an established author, and I already have a job, so why not give the content away for free?
Second, am I crazy? I have some fairly extreme ideas for how a church can become more missional, and I really desire reader feedback. So as you read the section, please comment and interact, even if you disagree. If you think I’m crazy or have completely lost my senses, tell me! If, however, you think that other people need to hear what I’m writing about, you don’t necessarily need to tell me, but please tell them!
Third, books and blogs are getting connected. If/when the book gets published, I will have a ready-made place to send the readers if they want to ask me a question, or interact with other readers.
Fourth, blogs are sometimes better than books. I can do things on a blog post that I cannot do in a paper book. Like lots of pictures, for example. To see what I mean, check out this post about church buildings. There is no way I could put those pictures in the typical book.
Finally, I am a book lover. As such, I have always wished that all books were free. I used to have a sign that hung in my study which said, “If grace is free, why are Christian books so expensive?” While I don’t believe that all authors should offer all their books for free, I still think that all authors would benefit from making more of their stuff available for free.

So where can you start reading?

I thought about listing ALL of the posts in the entire book right here. But then I realized that this would be about 200 posts. Nobody wants to look through that.
So I decided to arrange the posts like a book. Think of this post as the Table of Contents.
Below are the chapters in Close Your Church for Good. Each link goes to another page, which contains a ordered list of all the posts that were made from that chapter. If you read straight through them, you will get the basic content of the chapter.
Enjoy!

Close Your Church for Good

Table of Contents

  1. The Satanic Church
  2. Faith of the Fallen
  3. The Church Must Die
  4. Cancel your Church Service
  5. Cut All Church Programs
  6. Sell Your Church Building
  7. Resign as Pastor
  8. Down with Preaching
  9. Discard the Doctrinal Statement
  10. Let Prayer Meetings Cease
  11. Enough with Evangelism
  12. Pass on the Offering Plate
  13. Give Up Your Rites
  14. Give Up Your Rights
  15. To Hell with the Church

Selasa, 04 Mei 2010

“APAKAH GEREJA ?” (E-BOOK BE THE CHURCH)


“APAKAH GEREJA ?”


Saat kita mendengar kata gereja, apakah yang terlintas dalam benak kita? Bagi mayoritas orang itu merupakan sebuah tempat atau gedung ibadah bagi umat Kristen, mungkin dengan lambang salib di atas kubah gedung tersebut. Tetapi benarkah gereja merupakan sebuah tempat? Sebagian orang lagi menganggap gereja sebagai acara kebaktian (khususnya hari Minggu). Benarkah gereja hanya tentang acara semata? Ada pula yang menganggap gereja adalah organisasi agama dimana seorang Kristen wajib tergabung di dalamnya. Beberapa orang menyatakan gereja merupakan organisasi keagamaan yang sudah disahkan atau ditetapkan sebuah denominasi tertentu yang diakui pemerintah. Pernah suatu kali saya bertanya pada beberapa orang Kristen, mengapa mereka menjadi anggota gereja. Jawabannya, cukup mengejutkan, mereka bergabung agar mereka bisa diberkati pernikahannya atau dimakamkan saat meninggal. Benarkah gereja hanya semata organisasi buatan manusia? Apakah sesempit itu makna kita menjadi anggota dari keluarga Allah? Kita perlu menemukan kembali makna dari gereja itu sebenarnya.

Kata “church” (bahasa Inggris), “kerk” (bahasa Belanda), “die Kirkche (bahasa Jerman) atau gereja dalam bahasa Indonesia (kata ini kita diadopsi dari bahasa Portugis “igreja”) sebenarnya berasal dari kata sifat dalam bahasa Yunani kuriakos yang berarti “dari Tuhan” atau “milik kepunyaan Tuhan”. Sedangkan kata benda dalam bahasa Yunani yang mendekati konsep ini adalah sunagoge yang dapat berarti ganda; “umat Tuhan dan tempat khusus dimana mereka berkumpul”. Di dalam Perjanjian Lama kata jemaat mempunyai dua pengertian, yaitu edah yang digunakan untuk menyebut sekumpulan umat Israel (Keluaran 12:47) dan kahal yang digunakan untuk menyebut umat Israel sebagai jemaat yang berhubungan dengan ibadah kepada Allah (Imamat 16:17). Namun menariknya dari arti-arti di atas tak ada satupun yang digunakan dalam Alkitab untuk mengacu pada jemaat atau gereja.
Kata gereja pertama kali disebut dalam Matius 16:18, “Akupun berkata kepadamu:”Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya.” Kata Bahasa Yunani yang Yesus gunakan ialah “ Ekkaleo” dan Yesus adalah orang pertama yang menggunakannya setelah zaman para nabi berakhir. Sebelumnya para nabi memberitakan kehendak Allah dengan pola berpikir kerajaan (Kingdom minded). Artinya semua nabi yang ada sebelum Yesus (termasuk Yohanes Pembaptis) menggunakan istilah Kerajaan. Kata Ekkaleo yang merupakan akar kata dari Ekklesia yang punya pengertian “dipanggil keluar”, merupakan istilah yang menunjuk kepada sebuah kelompok masyarakat yang dipanggil keluar, yang dipilih untuk berdiri di pintu gerbang untuk membuat/mengambil keputusan yang mempengaruhi sebuah kota. Gereja = Kerajaan.
Setiap kali kata “gereja” muncul dalam Perjanjian Baru ia berasal dari kata ekklesia. Kata ini tidak seperti kuriakos maupun sunagoge sebab ekklesia tidak pernah mengacu pada bangunan atau tempat menyembah. Kata ini selalu mengacu pada sebuah pertemuan, kumpulan orang atau jemaat. Di luar Perjanjian Baru, kata ekklesia ini digunakan oleh perkumpulan politik yang secara teratur bertemu untuk suatu tujuan yaitu membuat keputusan atas kota dimana mereka tinggal. Yesus menggunakan kata-kata yang pasti telah dimengerti oleh orang-orang yang mendengarkanNya.
Jadi gereja bukanlah gedung atau denominasi tetapi kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar untuk melakukan keputusan Allah terhadap suatu daerah tertentu. Sebagaimana tertulis dalam I Petrus 2:5-9,” Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.” Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
Gereja bukanlah organisasi, acara, program atau bangunan, sebab gereja adalah kumpulan orang percaya. Gereja tidak bergantung pada adanya gedung, organisasi, acara atau program. Bahkan dalam Kamus Alkitab yang ada dalam Alkitab terbitan LAI pun menyebutkan arti gereja atau jemaat sebagai “Persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, baik yang di satu tempat maupun keseluruhan persekutuan Kristen. Juga disebut Tubuh Kristus yang didiami Roh Kudus. Bahasa Yunaninya ekklesia berarti perkumpulan orang-orang yang dipanggil dan dipilih Tuhan.
Wouw, sesuatu yang mengejutkan Anda? Kalau ya, fasten your seat belt, please (harap kencangkan sabuk pengaman Anda). Akan ada banyak hal yang mungkin mengejutkan Anda di halaman-halaman selanjutnya.
TAHUKAH ANDA KAPAN KITA MENGGUNAKAN “GEDUNG”?
Gedung pertemuan ibadah baru dikenal pada tahun 327 M yang diprakarsai oleh Kaisar Konstantin. Gedung ibadah tersebut dibangun berdasarkan basilika Romawi yang mengikuti model kuil-kuil penyembahan berhala Yunani. Sebelum masa itu gereja mula-mula bertumbuh, berkembang dan mempengaruhi dunia tanpa gedung ibadah. Kita harus mengingat bahwa Kaisar Konstantin merupakan penyembah Dewa Matahari sebelumnya.
Melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, Ia telah membuat rumah Allah yang baru yaitu gereja atau kita sebagai kumpulan orang percaya. Tuhan Yesus menyatakan, “Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?”Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri” (Yohanes 2:19-21). Lebih jauh lagi ada tertulis dalam Alkitab, “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Korintus 3:17, 6:19). Allah tidak berdiam di dalam gedung konstruksi buatan manusia, itu merupakan pelecehan terhadap karya Kristus di atas kayu salib. Ada tertulis dalam Kisah Para Rasul 7:48,”Tetapi Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia.” Ia tinggal dalam diri kita dan bukan di sebuah gedung. Kini tubuh kita adalah bait Allah yang harus dijaga kekudusannya setiap saat.
Gereja mula-mula berkumpul di rumah-rumah, inilah pola Allah bagi gerejaNya. Ini merupakan pola penggembalaan dimana setiap anggota saling memperhatikan, peduli, berkorban, melengkapi, terbuka, belajar dan bertumbuh bersama. Bahkan strategi penginjilan Yesus adalah melalui rumah – rumah. Dalam Matius 10:12-14,” Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.” Atau dalam Lukas 10:5-7,” Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.” Orang Kristen berkumpul di rumah-rumah atau dapat dikatakan mereka bergereja di rumah. Apakah ini alkitabiah? Ya, tentu saja apa yang saya tuliskan memiliki dasar Alkitab.
Kisah Para Rasul 2:46 “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah (*). Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.”
Kisah Para Rasul 5:42 Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah(*) dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias.
(*) Jemaat mula-mula berkumpul di “Bait Allah” (hanya ada di kota Yerusalem saja) saat mereka belum dianiaya oleh orang Yahudi. Namun itupun bukan berarti mereka berkumpul dan berada di dalamnya sebab hanya kaum Lewi saja yang boleh berada di dalam. Ingat struktur Bait Allah yang terbagi pada tiga bagian yaitu halaman, ruang kudus dan ruang maha kudus. Jemaat mula-mula mereka berada di “halaman” saja. Halaman merupakan tempat hang out pada masa itu. Bait Allah pun “hanya” ada di Yerusalem. Sebagai gambaran bagi kita yang hidup di Indonesia, bila Anda berada di Alun-alun sebuah kota biasanya juga terdapat sebuah “tempat ibadah” dan dihadapan tempat ibadah tersebut biasanya ada halaman atau taman dimana orang-orang dapat berkumpul atau melakukan suatu aktivitas. Jadi bila anda membaca Kisah Para Rasul dan membaca jemaat mula-mula berkumpul di bait Allah, mereka tidak beribadah sebagaimana di gereja modern kita dewasa ini. Bait Allah bukanlah gedung gereja sebagaimana yang kita gunakan kini.
Kisah Para Rasul 8:3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Kisah Para Rasul 12:12 Dan setelah berpikir sebentar, pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa.
Kisah Para Rasul 16:40 Lalu mereka meninggalkan penjara itu dan pergi ke rumah Lidia; dan setelah bertemu dengan saudara-saudara di situ dan menghiburkan mereka, berangkatlah kedua rasul itu.
Kisah Para Rasul 20:20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu.
Roma 16:5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.
1 Korintus 16:19 Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu.
Kolose 4:15 Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat yang ada di rumahnya.
Filemon 1:1-2 Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu.
Pada dasarnya kata jemaat atau gereja selalu menunjuk pada jemaat yang bertemu di rumah dan tidak menunjuk pada denominasi-denominasi atau kelompok-kelompok gereja yang terorganisir ataupun pada bangunan-bangunan gedung gereja. Kelihatannya Alkitab lebih banyak memberikan informasi tentang gereja yang bertemu di rumah dari pada tentang gereja yang kita kenal sekarang ini.
Dalam Perjanjian Baru kita mengenal 3 ekspresi gereja yaitu Gereja Universal – Tubuh Kristus (Mat 16:18), Gereja Lokal atau Kota (Wahyu 2:1,8,12, 18 ; 3:1, 7, 14) dan Gereja yang bertemu di rumah-rumah ( Matius 18:15-20, Roma 16:5, dst).
Gereja ada untuk kotanya. Ia adalah agen Kerajaan Allah untuk menghadirkan KerajaanNya atas kota tersebut. Gereja ada untuk kesejahteraan kotanya. Ingat Doa Bapa Kami? Matius 6:9-10 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Gereja berkumpul secara teratur dan memiliki tujuan tertentu saat berkumpul.
Sedangkan gereja modern yang kita kenal saat ini adalah Gereja Denominasi (organisasi), Kongregasi (pertemuan ibadah atau kebaktian menurut tradisi setiap minggu) dan kebaktian di rumah tangga sebagai bagian program dari gereja pusat.

PERBEDAAN DALAM GEREJA MULA-MULA DAN MODERN


GEREJA MODERN GEREJA MULA-MULA
LOKASI Gedung Ibadah Di rumah-rumah
UKURAN Besar, hubungan renggang Kecil, hubungan akrab
HUBUNGAN Jauh, cenderung tidak saling kenal dan acuh Dekat, transparan, saling peduli
ADA MASALAH Cari pendeta/Gembala Sidang Saling menasehati dan membangun satu dengan yang lain
CARA HIDUP Individu, perseorangan Komunitas, kebersamaan
PUSAT Kebaktian atau ibadah di gedung ibadah, dan aktif mengikuti program yang ada Ketaatan sebagai pelaku Firman Tuhan setiap waktu yang dimulai di rumah atau keluarga
KEHIDUPAN DOA Pilihan pribadi, terbatas Penekanan yang kuat
PENGINJILAN Penjangkauan keluar oleh orang-orang khusus, melalui program-program khusus Pergi ke tetangga, saudara, teman dan masyarakat menjadi “kabar baik” dan bermultiplikasi secara alami
PEMURIDAN Kelas, buku bacaan & catatan, sedikit teladan, transfer pengetahuan “Mulut ke telinga”, teladan hidup, transfer pengetahuan dan kehidupan.
KEPEMIMPINAN Gembala Sidang, kepemimpinan tunggal Kepenatuaan, kepemimpinan jamak
TUGAS PEMIMPIN Memimpin program kerja, menyampaikan khotbah dengan baik, mendoakan jemaat, visitasi dll Memperlengkapi jemaat untuk melakukan pekerjaan Tuhan bersama-sama
KEUANGAN Persembahan & Perpuluhan dari anggota Membagi apa yang mereka miliki, jemaat mau saling berkorban bila ada sebuah kebutuhan
PENGAJARAN Menekankan pengajaran atau kepercayaan khusus dari denominasi tsb. Disampaikan oleh “orang tertentu” Mempelajari & mengaplikasikan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Setiap jemaat dapat saling belajar dan berbagi.
GAYA PENGAJARAN Statis, berpusat pada khotbah atau pengajaran satu arah Kinetis, ada dialog dan tanya-jawab
KARUNIA ROHANI Kurang berperan. Hanya dilakukan oleh orang tertentu Dipraktekkan secara teratur oleh semua orang percaya untuk saling membangun
HARAPAN PADA ANGGOTA Setia hadir pada tiap program, memberi perpuluhan, masuk kelas pemuridan, aktif membantu “pelayanan”, membawa banyak orang ke “gereja” Menjadi “gereja” dimana saja, membawa “gereja” dalam masyarakat, melayani orang lain, menjadi terang dan garam di dunia, menjadi alat transformasi bagi kotanya
PERSPEKTIF Ibadah raya sebagai titik fokus Jemaat yang bertemu di rumah sebagai titik fokus
KATA KUNCI Jadilah anggota “gereja”, datang bertumbuhlah bersama kami Jadilah murid Kristus, pergi dan jadikan semua bangsa murid Kristus
MISI Mengutus utusan Injil, profesional dan sudah terlatih. Gereja mengutus dirinya sendiri untuk bermultiplikasi, jemaat menyadari semua terlibat misi dari Tuhan
KOMITMEN Memperluas institusi atau denominasi, keseragaman Memperluas Kerajaan Allah, bergerak bersama tubuh Kristus yang ada tanpa memandang “organisasinya”.
SPIRITUALITAS Kristen cek-list, ketaatan pada agama/hukum, pemisahan antara kehidupan rohani dan sekuler Menjadi “gereja”, taat karena mengasihi Tuhan, kehidupan rohani maupun sekuler manunggal

Selasa, 27 April 2010

“GEREJA DALAM BENAK SAYA DULU” (E-BOOK BE THE CHURCH)



“GEREJA DALAM BENAK SAYA DULU”


Keluarga besar saya termasuk keluarga yang taat beragama dan menghadiri ibadah gereja setiap Minggu, terlebih keluarga Oma Buyut saya adalah salah satu majelis terpandang di gereja yang sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Saya teringat ketika diajarkan bahwa gereja merupakan gedung tempat suci dimana kita menjumpai Tuhan. Gedung gereja kami sangatlah artistik dan kuno dengan perlengkapan alat musik orgel (semacam organ zaman dahulu menggunakan pipa-pipa). Tempat tersebut suci maka kita harus berpakaian yang sopan dan terbaik, kita harus beretika seperti bila kita menghadap Presiden, sebab Tuhan kita, Raja di atas segala raja. Kita tidak boleh ribut, harus duduk rapih dan diam apalagi saat firman Tuhan atau khotbah. Dimana saya diajarkan Tuhan sedang berbicara melalui hambaNya, yaitu Bapak atau Ibu Pendeta. Sebagai seorang anak kecil pada saat itu, terus terang saya tidak menikmati kegiatan ibadah umum tersebut. Saya merasakan tiga jam ibadah yang menyiksa, karena saya harus banyak diam dan duduk “membeku” kalau tidak mata Mama atau orang di sekeliling saya akan melotot seolah saya sudah melakukan dosa yang tak terampuni. Hal yang mungkin melegakan saya adalah saat Bapak Pendeta mengucapkan doa berkat penutup dan lalu bernyanyi,”Amien….Amien…Amien.” Wah, langsung dada saya plong dan berkata dalam hati,”Akhirnya selesai juga.” Rutinitas beribadah ke gereja setiap Minggu pagi pada saat itu merupakan rutinitas paling membosankan bagi diri saya tetapi saya diajarkan bahwa itulah hidup kekristenan dan tanda kesetiaan saya pada Tuhan Yesus.

Saat saya kecil, Mama sering membawa saya ke toko buku Kristen, satu-satunya di kota Bandung saya rasa pada masa itu, Kalam Hidup. Di toko buku tersebut, saya membeli literatur buku cerita bergambar tentang Alkitab (yang sangat terbatas pada masa itu), saya paling menyukai tokoh Tuhan Yesus. Saya sangat mengagumi Tuhan saya, Yesus Kristus. Bagaimana Ia begitu mudah di dekati bahkan Ia menerima anak-anak kecil untuk duduk dipangkuanNya kala Ia tengah mengajar umat Tuhan. Timbul pertanyaan dalam benak saya, kalau Tuhan begitu mudah didekati mengapa sangat sulit untuk mendekati Pendeta? Bahkan saat Ia mengajar anak-anak ada di sekitarNya, apakah mereka juga harus duduk diam seperti saya saat berada di tempat ibadah atau mereka bertingkah sebagaimana anak-anak pada umumnya? Saya melihat bahwa anak-anak merasa aman dan nyaman untuk mendekati Tuhan Yesus sedang saya melihat anak-anak di gereja termasuk saya ketika itu, memiliki perasaan yang sebaliknya terhadap pendeta kami, melihat pendeta mengenakan jubah hitam besar dan wajahnya yang tegang, serius dan sedikit senyum membuat kami sebagai “kaum anak” merasa ikut tegang dan takut. Terkadang kami sudah mengulurkan tangan untuk bersalaman, Bapak pendeta tidak memberi salam pada kami sebab matanya tertuju pada Oom atau Tante yang ada di belakang kami, sedang kami begitu kecil dan terlewatkan. Hingga timbul persepsi dalam benak saya dulu bahwa sebagai anak kecil kami ini tidak berharga. Bila saya tanya pada Mama, mengapa Bapak Pendeta tidak mau menerima salam saya, Mama pun hanya diam seribu bahasa (mungkin Mama pun tak tahu cara untuk menerangkannya). Hingga akhirnya saya pun menjadi malas untuk bertanya dan beranggapan memang seperti itulah gereja.

Pada saat yang lain, anggota keluarga saya akan mengikuti sakramen baptisan (denominasi gereja kami mempercayai baptisan anak). Saya melihat anak-anak dari keluarga besar saya akan mengikuti baptisan, maka saya pun berbicara pada Mama bahwa saya pun ingin dibaptis. Tetapi Mama berkata,”Maaf Dave, kamu belum boleh dibaptis.” Dengan wajah penuh keheranan saya pun bertanya,”Kenapa ga boleh,Ma…itu si A dan si B kok boleh?” Mama menghela napasnya dan dengan nada yang berat menyampaikan,”Dave, karena Mama belum menikah dan diberkati oleh gereja maka kamu ga bisa dibaptis.” Hati saya sedih, terluka dan tertolak saat melihat saudara-saudara saya dibaptis pada pagi itu.
(Kesaksian: Mama saya sempat terkena bujuk rayu kekasihnya untuk melakukan “hal terlarang” dalam masa berpacaran hingga akhirnya mama saya hamil melahirkan diri saya di luar lembaga pernikahan dan pria tersebut lari dari tanggungjawabnya)
Hal tersebut memukul batin Dave kecil saat itu, saya merasa bahwa Tuhan dan gereja menolak diri saya sebab saya terlahir ke dunia ini bukan dari lembaga pernikahan yang sah dan sempurna. Saya merasa “anak yang cacat” di mata gereja dan Tuhan. Sayangnya Mama maupun pihak gereja tidak menyadari hal tersebut. Hingga timbul dalam benak Dave kecil saat itu, bila gereja atau Tuhan menolak saya untuk apa saya melibatkan diri dalam kegiatan atau ritual ibadah yang membosankan ini? Mulai saat itu saya membuat seribu satu alasan agar saya tak perlu pergi ke gereja. Kalau pun saya “dipaksa” ikut, saya banyak mangkir ke toilet…..dan ternyata banyak sekali Oom-Oom terkasih di sana menghisap rokok sambil mengobrol menantikan khotbah atau doa syafaat berakhir….mereka pun ternyata bosan berada di dalam. Bertambahlah kuat dalam benak saya persepsi bahwa gereja adalah tempat paling membosankan di muka bumi.

Pengalaman masa kecil membuat saya bertumbuh sebagai remaja yang memberontak dan terlibat dalam dunia hitam di jalanan. Hanya oleh kasih karunia Tuhan saja, Ia membawa saya kembali ke dalam pelukanNya.

Saat saya bertobat dalam salah satu acara Kebaktian Kebangunan Rohani di kota Bandung. Saya pun mengalami kesulitan saat sudah bertobat dan kembali ke pelukan Tuhan Yesus. Saya banyak mengalami banyak penolakan “hanya” akibat cara saya berpakaian kala beribadah. Orang sangat antipati sebab saya berambut gondrong, mengenakan anting, bercelana jeans belel dan mengenakan t-shirt warna hitam. Semua pandangan mata penuh curiga, seorang Tante yang duduk disebelah saya selama ibadah terus memegang tasnya dan menatap dengan penuh curiga. Bukan karena saya tidak mau “berpakaian sopan” hanya saja selama 12 tahun hidup sebagai anak geng di jalanan, saya tak punya celana kain ataupun kemeja. Namun saya pun tak memiliki ruang untuk memberikan penjelasan sebab tak ada seorang pun yang bertanya. Apakah Tuhan Yesus hanya menerima orang yang berpakaian rapih dan sopan? Apakah Tuhan tidak tahu masalah kami yang berasal “dari jalanan”? Kembali pertanyaan ini menggelayuti pemikiran saya. Hampir saja saya menyerah akibat penolakan pihak gereja pada saat itu, sampai saya berdoa dan Tuhan berbicara melalui hati nurani saya,”Dave, bila kau terus memandang manusia atau organisasi gereja maka kau akan kecewa. Sebab itu “hanya” fokus padaKU sebab AKU tak akan menolakmu.”

Sebagai orang awam saat itu saya berpandangan bahwa gereja merupakan tempat suci hanya bagi orang-orang yang “kudus” dan mengikuti budaya gereja tersebut (cara berpakaian, berbicara, bersikap selama ibadah), tidak ada tempat bagi orang yang “berbeda”, saya pun harus menjadi sempurna dengan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan entah itu alkitabiah atau hanya bagian dari tradisi pendiri organisasi tersebut. Mulai saat itulah saya pun mengikuti “budaya” setempat agar dapat diterima. Saya suka atau tidak diikuti saja “demi Tuhan Yesus”.

Apa yang diajarkan pada saya tentang gereja di Sekolah Alkitab

Saat saya mengikuti Sekolah Alkitab saya mendapatkan mata kuliah Pertumbuhan Gereja. Kami sebagai mahasiswa diajarkan bahwa setiap hamba Tuhan harus dapat merintis gereja sebab itu yang Tuhan Yesus kehendaki. Dosen kami (jebolan Sekolah Pertumbuhan Gereja dari Pendeta David Yonggi Cho di Korea Selatan) mengajarkan bahwa faktor penyebab pertumbuhan jemaat adalah faktor kelahiran (dalam jemat yang sudah eksis), lokasi atau tempat ibadah yang strategis dan penginjilan.

Lebih lanjut dosen saya mengajarkan mengenai betapa pentingnya sebuah gereja mempunyai visi. Ini merupakan hal pertama yang harus dimiliki oleh gereja yaitu visi. Ia menyatakan bahwa perkembangan sebuah jemaat ditentukan oleh Pendetanya. Gereja yang berkembang pesat menjadi mega church (gereja mega) memiliki pemimpin yang dinamis dan inovatif. Pemimpin gereja yang dinamis memiliki iman, visi dan rencana yang terfokus; pemimpin model ini akan dengan mudah mempengaruhi kehidupan seluruh jemaat dan perkembangan pelayanan yang digembalakan menuju pertumbuhan yang pesat.
Sebagai contoh beliau menggambarkan apa yang dilakukan oleh Pendeta Yonggi Cho, sebagai pemimpin beliau memaparkan sasaran-sasaran apa saja yang akan mereka capai setiap tahunnya. Umpamanya memperluas kompleks gereja, meningkatkan jumlah anggota, meningkatkan persekutuan sel keluarga, menggencarkan penginjilan dalam segala bentuk media melalui World Mission Crusade dan meningkatkan serta menguatkan iman setiap anggota jemaat melalui berbagai pelatihan pembinaan iman dalam gereja.

Hal yang kedua beliau tekankan adalah kehidupan doa bahwa doa dapat mengubah segala keadaan. Penekanan bahwa setiap gereja harus memiliki ibadah doa semalam suntuk minimal sekali seminggu tetapi bila hendak berkembang pesat seperti gereja Yoido Full Gospel yang digembalakan Pdt Yonggi Cho maka ibadah doa semalam suntuk harus diadakan setiap hari. Setelah itu disusul ibadah doa pagi setiap hari, dari pukul 04.30 hingga 06.00. Kegiatan ini diikuti oleh jemaat Pdt Yonggi Cho dengan rajin, ibadah doa ini setiap harinya dihadiri oleh ribuan orang. Mereka juga memiliki bukit doa yang berada di luar kota Seoul yang dibuka bagi siapa saja selama 24 jam, yang mau datang untuk berdoa bagi kemajuan gereja Yoido Full Gospel dan kebutuhan lainnya.

Hal ketiga adalah perlunya gereja memiliki kelompok sel. Beliau mengajarkan bahwa salah satu kunci sukses pertumbuhan dan pertambahan jemaat pada gereja Yoido Full Gospel adalah sistem kelompok sel. Beliau menerangkan bahwa kelompok sel terdiri dari 8 hingga 15 Kepala Keluarga di suatu wilayah dan pada hari tertentu untuk berdoa, berbakti dan mempelajari firman Tuhan yang telah disampaikan oleh Gembala Sidang pada ibadah raya.
Dalam kelompok sel ini diadakan doa bagi mereka yang mempunyai masalah, penyakit dan mencari kepenuhan Roh Kudus. Sasaran setiap sel adalah melahirkan sel baru lagi setelah jumlah mereka yang berkumpul lebih dari 15 KK, maka kelompok sel itu harus membelah membentuk sel baru. Kaum awam dilibatkan dalam pelayanan ini diharapkan mereka menjadi anggota aktif dan tidak pasif.
Kami diajarkan tujuh hal yang perlu dihindari terjadi dalam kelompok sel, yaitu bahwa ketua sel harus seorang pria, ibadah kelompok sel tidak boleh dicampuradukkan dengan ucapan syukur/acara sejenis ini diadakan terpisah atau setelah ibadah sel, pemimpin yang tak berkualitas (sebab itu setiap ketua kelompok sel harus mengikuti kelas-kelas pelatihan, memiliki sertifikat dan didoakan di muka jemaat umum dalam ibadah raya), dilarang mengundang pengkhotbah tamu (sebab siapa tahu memiliki doktrin yang berbeda dengan gereja kita dan menyesatkan jemaat), dilarang saling pinjam meminjam entah barang apalagi uang antar jemaat, tempat ibadah atau rumah harus yang memadai, dan persembahan harus langsung disetor ke bendahara gereja agar tidak ada yang menggunakannya.
Kami juga diberikan petunjuk liturgi ibadah kelompok sel:
Doa
Pujian
Kesaksian
Persembahan pujian/pujian
Persembahan/kolekte
Firman Tuhan
Doa bagi masalah, penyakit dan kepenuhan Roh Kudus
Doa penutup
Sedang cara memulai sebuah kelompok sel adalah dengan mencari tempat yang besar dan cukup strategis (orang yang bersedia rumahnya digunakan), diumumkan melalui buletin gereja dan juga mimbar gereja pada ibadah raya, memilih dan menetapkan pemimpin, dimulai dari anggota keluarga sendiri dan menyusun target untuk mengundang 15 KK di luar jemaat organisasi gereja kita sampai target itu tercapai dan lalu membelah menjadi sel yang baru.

Hal keempat, gereja harus memiliki program missi. Gereja harus terlibat dalam missi dunia, mengirimkan tenaga misionaris menjangkau suku terabaikan di dalam negeri sendiri maupun negara-negara lain. Gereja yang terlibat missi pasti diberkati oleh Tuhan Yesus.

Hal kelima, seorang pendeta yang sukses harus memiliki staf yang memiliki loyalitas terhadap visi global gereja, kharisma dan kemampuan melayani secara profesional. Mereka harus dapat menjadi “pahlawan” bagi jemaat.

Hal keenam, gereja kita harus bergabung dengan sebuah sinode yang memiliki struktur organisasi yang baik. Jangan bergabung dengan sinode dengan struktur yang kaku dan mati sebab akan menghambat pertumbuhan jemaat.

Hal ketujuh, masalah khotbah haruslah yang up to date (terkini), menggugah iman, memberi motivasi dan menunjukkan rasa simpati serta beban kebutuhan hidup jemaat. Saat itu kami ditekankan untuk menyampaikan khotbah yang menekankan rahasia kehidupan; seperti bagaimana hidup sukses, rahasia hidup sehat & bahagia, jalan keluar dari segala masalah, bagaimana lepas dari jerat hutang, dan pergumulan hidup dan yang sejenisnya. Diharapkan ketika jemaat merasa kebutuhan hidupnya terjawab melalui khotbah kita maka mereka pun akan membawa orang lain masuk dalam jemaat kita. Hingga terjadi pertumbuhan dalam jemaat akibat khotbah kita yang tepat sasaran.

Di akhir mata kuliah ini, dosen saya juga memberikan 7 rahasia pertumbuhan dari gereja Crystal Cathedral yang digembalakan Pendeta Robert Schuller di Amerika Serikat:

Gereja harus berada-ada di tengah masyarakat.
Memiliki tempat parkir yang luas.
Mudah dicapai dan strategis lokasinya.
Kebaktiannya harus hidup, menarik dan mengena pada kebutuhan jemaat.
Pemikiran positif dan motivasi yang disampaikan melalui khotbah
Jangan takut berhutang untuk membangun gereja (gedung ibadah)
Pemasaran/propaganda gereja dengan memperkenalkan pelayanan gereja kita melalui masmedia dan program apa saja yang dikerjakan.

Sejak saat itu buku-buku mengenai cara penanaman gereja dari para pendeta mega church, rahasia kebangunan rohani dan cara menjadi pendeta sukses menjadi lalapan saya. Bahkan buku-buku bacaan rohani tersebut menjadi lebih penting daripada Alkitab itu sendiri tanpa saya menyadarinya. Bukannya mencari blue print dari Tuhan, saya mencari rumus kesuksesan gereja dari rekan-rekan pendeta….saya coba mengikuti blue print mereka.
Gereja dalam pandangan saya saat itu lebih pada sebuah tempat atau gedung yang harus terus menerus dirawat dan dibangun, memiliki program terpadu, harus menyampaikan khotbah pengajaran yang menjawab kebutuhan dan kedahagaan jemaat, dan membesarkan jumlah anggota. Ukuran keberhasilan saya saat itu adalah dari betapa megahnya gedung gereja yang kami dirikan, berapa banyak jumlah anggota jemaat kami, berapa banyak perpuluhan dan persembahan yang kami dapatkan, padatnya jadwal khotbah kita baik di dalam maupun luar jemaat, berapa banyak orang yang mengalami “lawatan Allah” (tumbang saat didoakan, menangis tersedu, dll), dapat mendirikan sekolah Alkitab sendiri dan mengutus misionaris menjangkau suku terabaikan. Semuanya ini menjadi target pelayanan penanaman gereja saya. Saya ingin punya nama besar dari gereja yang saya rintis di dalam nama Tuhan.

Senin, 26 April 2010

PENDAHULUAN (E-BOOK "BE THE CHURCH")


PENDAHULUAN


Pada tahun 1996 terjadi peristiwa berantai dimana gereja-gereja Indonesia mengalami aniaya di beberapa kota di Pulau Jawa. Gedung-gedung ibadah diserang dan dibakar, salah satu kisah yang mengharukan terjadi di Situbondo dimana keluarga pelayan Tuhan pun tewas sebagai martir dalam kerusuhan tersebut. Di belahan Pulau Jawa yang lain, saat itu saya tengah melayani di sebuah denominasi gereja yang berada di Jawa Barat. Kala itu gedung ibadah tempat kami melayani juga diserang dan dibakar oleh massa. Sangat menakutkan kondisi tersebut, melihat bangunan yang megah dan segala fasilitas yang ada lenyap seketika itu juga. Saat itu saya sendiri tengah melayani di kota lain sedang seorang rekan saya yang berada di lokasi berhasil meloloskan diri dari penyerangan tersebut. Puji Tuhan.
Ketika tiba hari Minggu beberapa hari setelah penyerangan dan pembakaran itu, jemaat menelpon kami dan menanyakan apakah tetap ada ibadah. Dan kami menjawab ibadah tetap ada, mereka pun menanyakan dimana dan bagaimana? Mereka bingung bagaimana kita akan beribadah sebab gedung ibadah hancur dilalap si jago merah, perlengkapan musik dan sound system rusak dan tidak ada bangku.
Peristiwa itu mulai mengganggu pikiran saya, sebegitu mudahnyakah gereja dihentikan dan ditutup? Apakah ini hanya satu-satunya cara kita beribadah pada Tuhan kita?

Beberapa tahun kemudian pada akhir 90-an saat itu kami tengah merintis sebuah jemaat di kota Pahlawan – Surabaya, “orangtua rohani” kami Pr Christopher dan Vijaya Khrisnasamy dari pelayanan Zoe Ministries Penang – Malaysia datang mengunjungi keluarga kami. Kala itu kami tinggal di daerah Kedondong yang sangat padat penduduk, beliau mentaati suara Tuhan untuk datang ke Indonesia dan “menguatkan” kami. Saat kami dalam kondisi tidak punya apa-apa, beliau datang mengunjungi kami.
Beliau datang sebagai ayah yang menerima keberadaan kami sebagai pelayan Tuhan bagi kaum terbuang dan tersisih. Saya sangat diberkati melalui pelayanan beliau sejak 1995, kala bertemu beliau di Discipleship Training School – YWAM Jakarta. Kami merasakan “pribadi Bapa surgawi” yang terefleksi melalui kehidupan keluarga mereka.
Gereja yang kami rintis memang berkembang tetapi jemaat kami mayoritas bukanlah orang kaya dan terpelajar. Mayoritas merupakan orang-orang yang selama ini tersisihkan dan dipandang sebelah mata. Ada kalanya kami ingin menyerah saat itu sebab kami tidak memiliki fasilitas apa-apa. Kami beribadah dari rumah ke rumah dan tak punya gedung atau sekretariat. Pelayanan berkembang dari hanya segelintir orang sampai lalu mencapai ratusan orang.
Kala kebingungan melanda diri kami, Tuhan mengutus anakNya dari Malaysia untuk menguatkan kami. Beliau menyampaikan sebuah nubuatan bagaimana Tuhan memakai pelayanan kami untuk memulihkan dan mengubahkan banyak jiwa sebagaimana Daud bersama pengikutnya di gua Adulam, segerombolan pecundang yang berubah menjadi sekumpulan pahlawan Daud. Bagaimana Tuhan menghendaki kami untuk menanam gereja dengan pola yang ada di dalam Perjanjian Baru seperti jemaat mula-mula di dalam kitab Kisah Para Rasul.
Beliau bercerita bagaimana ketika Idi Amien berkuasa di Uganda, ia menangkapi dan membunuh para pendeta dan orang Kristen dilarang bertemu untuk beribadah. Ada dua kepala keluarga yang setiap hari bertemu di sebuah pabrik tempat mereka bekerja. Tetapi mereka dilarang bahkan untuk berbicara mengenai Tuhan di tempat bekerja. Setiap sore ketika mereka pulang dan mengambil sepeda di tempat parkir, maka mereka berjalan berdampinga, lalu saling menanyakan keadaan masing-masing. Dalam perjalanan keluar tempat kerja, mereka saling mendoakan atau saling membagikan hasil saat teduh atau renungan pagi untuk saling menguatkan iman. Akhirnya mereka berpisah di ujung jalan kantor hingga keesokan harinya kembali.
Lalu beliau berkata pada saya,”Dave, itulah gereja.” Duueeer!!!!!! Saya sangat terkejut dengan pernyataan beliau. “Apakah itu bisa disebut gereja?” Beliau memberikan kutipan ayat di dalam Matius 18:20, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”Paradigma mengenai gereja yang selama ini ada dalam benak saya terguncang.

Lain lagi ketika Inban Caldwell berdiskusi dengan saya (Inban dan Rozanne Caldwell merupakan “mentor rohani” kami yang lain), beliau menanamkan nilai kepemimpinan, ketegasan, keberanian dan kesungguhan untuk mencapai visi Tuhan. Dimana ketika itu ia mengajak saya memikirkan bagaimana caranya agar jemaat yang ada memiliki rasa takut akan Tuhan. Ia mengajarkan pada saya bahwa rasa takut akan Tuhan harus dimulai di rumah tangga. Ujian kita sebagai orang Kristen adalah di rumah, meskipun kita pandai berkhotbah dan mengajar Alkitab bahkan punya pelayanan internasional sekalipun tetapi orang di dalam rumah dapat tahu dengan pasti apakah kita orang Kristen yang melakukan firman Tuhan atau hanya seorang munafik yang pandai berbicara. Pendeknya praktek gereja harus dimulai di rumah.
Hal lain lagi yang ia tanamkan pada saya adalah bahwa setiap hari adalah kudus. Tidak ada sebuah hari yang lebih sakral dari yang lain. Semua hari sama hingga kita harus hidup dalam takut akan Tuhan setiap hari bahkan setiap saat tentunya. Bukan hanya pada hari Minggu, itupun tampak suci saat di dalam gedung ibadah saja.
Beliau juga menanamkan betapa pentingnya visi atau tujuan bagi umat Tuhan sebab bila tidak jemaat akan hidup tanpa tujuan yang jelas.

Dari teladan kehidupan kedua keluarga ini saya banyak belajar dan akhirnya mengajar arti servant leadership (kepemimpinan kehambaan) dan fathering leadership (kepemimpinan pembapaan). Menjadi “ayah rohani” bukan sekedar mendapat panggilan “papa atau papi” dari murid kita tetapi lebih pada fungsi. Benar-benar menjadi ayah kala suka maupun duka. Gereja sebagai keluarga Allah yang sesungguhnya dan buka sekedar “lips service”.

Sejak saat itu benak saya dipenuhi pertanyaan dan rasa ingin tahu yang besar untuk menyelidiki apakah itu gereja, apa rencana Tuhan tentang gerejaNya, Seperti apakah gereja yang didirikan Tuhan Yesus? Apakah saya membangun gereja Tuhan atau gereja saya sendiri? Apakah gereja saat ini alkitabiah atau tidak? Kepemimpinan seperti apa yang Tuhan kehendaki, kependetaan atau kepenatuaan dan mengapa? Apakah Tuhan menghendaki orang percaya sebagai pengikut atau muridNya? Bila saya menemukan kebenaranNya beranikah saya untuk melangkah berhadapan dengan tradisi gereja yang sudah terbangun selama berabad-abad?

Tujuan buku ini bukan untuk menyerang institusi gereja, tetapi untuk kembali bersama-sama memikirkan tujuan adanya gereja Tuhan di muka bumi. Agar gereja Tuhan dapat memobilisasi murid-murid Kristus menghasilkan buah yang tetap dan kekal bagi Bapa Surgawi. Church back to simplicity (gereja kembali kepada kesederhanaan).
Buku ini ditulis bukan demi diri saya atau pergerakan gereja rumah (house church movement) tetapi demi menanam gereja Tuhan sesuai blueprint-Nya. It’s all about Jesus.


(Ini Merupakan Pendahuluan dar E-book "Be The Church")