Senin, 28 April 2008

FILOSOFI KEPEMIMPINAN


FILOSOFI KEPEMIMPINAN
KONTRAS MODEL KEPEMIMPINAN
Markus 10:42-45
Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Leadership is not laddership but servanthood
Dalam ayat-ayat di atas Tuhan Yesus secara langsung mempertentangkan dua model kepemimpinan. Kelihatannya memang kedua model kepemimpinan ini sangat berbeda dan tidak mungkin bertemu dalam keadaan apapun karena arah dan tujuannya berbeda. Menggabungkan keduanya dalam suatu sistim adalah suatu kecelakaan.
Konteks ayat-ayat di atas adalah sebuah kejadian ketika Yohanes dan Yakobus  meminta Yesus agar mereka dapat duduk dalam kehormatan dan kemuliaan bersama Kristus. Dalam banyak hal sikap dari kedua murid Yesus ini secara efektif menyimpulkan sikap menguasai yang ada dalam kepemimpinan yang ternyata dalam setiap generasi. Yesus berkata bahwa “pemimpin bangsa-bangsa” (Pemimpin penguasa) secara natural mencari sebuah tingkat (rangking) di atas yang lain. Merupakan sifat manusia untuk mencari jalan pintas untuk berada di puncak, posisi yang paling menyenangkan ego tanpa memperdulikan harga yang orang lain bayar.
Yang menarik di sini Yesus tidaklah melarang murid-muridnya untuk menjadi “besar”, tapi Yesus secara dramatis me-redefinisi arti dari “kebesaran” dan menunjukkan arah yang sama sekali berlawanan dengan apa yang biasa dipahami oleh murid-muridnya.
Secara tegas Yesus menunjukkan bahwa kalau murid-muridNya ingin menjadi pemimpin maka mereka harus mengambil jalan pengorbanan, penderitaan, dan pelayanan.
Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (ayat 43,44).
Ayat-ayat yang kita baca di atas memang memberikan kepada kita sebuah pilihan dalam jalan kepemimpinan. Pilihan ini memberikan dua arah yang berbeda yang akan menghasilkan dua akibat yang berbeda. Jalan yang eprtama akan menuntun pada kuasa, wibawa, dan kendali. Sedangkan jalan yang lain –jalan yang mengikuti jejak kaki Tuhan Yesus- adalah sebuah jalan kerendahan dan menaruh orang lain lebih dahulu. Dengan kata lain Yesus membuat sebuah terobosan tajam pada masalah kepemimpinan yang sebenarnya. PerkataanNya menyerang motif dan nilai-nilai yang kita miliki.
Jadi sekarang kita ditarik untuk mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang tidak kelihatan; yakni bagaimana kita bergerak dalam hubungannya dengan kehidupan orang lain. Setiap kita  memiliki model mentalitas kepemimpinan, dan model itu menyatakan bagaimana kita menjalankan kepemimpinan kita.
Model kepemimpinan yang didasarkan pada posisi kekuasaan akan menghalangi tujuan untuk memberdayakan dan melepaskan orang lain untuk sebuah pelayanan. Sebaliknya model kepemimpinan yang didasarkan pada kehambaan  akan menolong untuk melengkapi, memberdayakan dan membebaskan orang lain untuk mencapai tujuan Tuhan dalam diri mereka.
PRINSIP, ASUMSI, DAN NILAI
Kehidupan ini didasarkan pada ketiga kata ini ; nilai, asumsi dan prinsip. Sebagai contoh kalau saya membaca sebuah buku dengan begitu nikmat karena saya memiliki sebuah nilai bahwa membaca memperluas wawasan dan mempertajam pemikiran, dan ketika saya mengambil sebuah buku untuk dibaca saya mempunyai asumsi bahwa buku yang saya baca akan memberikan informasi yang cukup menantang untuk memperluas wawasan berpikir saya, sedangkan prinsip utama dalam hal membaca adalah bahwa cara kita bertindak atau bersikap sangat ditentukan atau dibatasi oleh paradigma kita yang dibentuk informasi-informasi yang kita terima dalam pikiran kita.
Demikian juga model kepemimpinan yang merupakan dasar kita bergerak berakar pada nilai-nilai, asumsi-asumsi dan prinsip-prinsip tertentu. Hal-hal tersebut memang tidak kelihatan tapi menentukan keyakinan yang menguasai/ memerintah apa yang kita lakukan dan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain.
Itulah sebabnya melihat lebih dari sekedar permukaan aktivitas dan pengalaman kepemimpinan adalah hal yang sangat penting. Karena pusat keyakinan kita tentang kepemimpinan akan menentukan apakah dalam kehidupan kita model kepemimpinan penguasa atau kehambaan yang akan menang.
Kita harus mengerti bahwa kepemimpinan model penguasapun dapat memberikan kepada kita sejumlah nilai yang baik
Kita akan melihat nilai-nilai, asumsi dan juga prinsip yang mendasari kedua model kepemimpinan ini.
MODEL KEPEMIMPINAN PENGUASA
Kalau kita melihat nilai-nilai dasar dari model kepemimpinan penguasa dalam gereja; maka kita akan melihat paling tidak ada empat nilai pendorong yang tetap bertahan dalam beberapa dekade terakhir ini;
1.Standardisasi
Nilai ini beranggapan kesamaan dan keseragaman dapat dicapai. Ide dasar dari nilai ini adaalh kalau semua orang dalam pelayanan melakukan semuanya dengan cara sama, dan dengan kebiasaan yang sama, sebagai suatu akibat segalanya akan bergerak maju.
Melakukan segalanya dengan cara yang sama menjadi persyaratan untuk sukses. Inilah asumsinya: Jika formula dan kegiatan pelayanan dihasilkan kembali secara akurat dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dalam setiap kehidupan, dari tahun ke tahun, maka keberhasilan akan menjadi akibatnya.
2.Pragmatis
Nilai dari pragmatis sangat sederhana yakni bahwa buat apa mengerjakan sesuatu yang tidak menghasilkan sesuatu, artinya pusat perhatian kita ada pada hasil dan bukan pada proses. Asumsinya sangat jelas : If it works, it must be right (Apa yang berhasil sudah pasti benar). Ketika bagaimana menjadi pertanyaan pusat maka Alkitab menjadi otoritas sekunder dan apa yang berhasil menjadi nilai primer.
3.Produktifitas
Nilainya adalah harga diri diukur oleh kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Kita akan menghargai gembala gereja yang besar lebih dari gembala gereja kecil. Asumsinya adalah bahwa orang yang menghasilkan sesuatu pasti benar dan jumlah akan memutuskan segalanya.
4.Sentralisasi
Nilainya adalah harus ada ada seorang yang memegang kendali; seorang yang memberikan tanggungjawab agar ketertiban tercipta. Hampir menjadi keyakinan agama manapun  bahwa kendali harus datang dari atas dan dari luar diri kita untuk kita dapat beroperasi dalam cara yang menyenangkan. Sentralisasi berasumsi bahwa seorang pemimpin berbicara bagi Tuhan dan bahwa umat ada di situ untuk mendukung visi pemimpin sampai tercapai. Yang terjadi adalah pemimpin menjadi pribadi yang kudus dari Tuhan dan itu berarti bahwa gagal mengikuti kehendak mereka adalah pemberontakan terhadap Tuhan sendiri.
Keempat nilai yang mendorong sistim kepemimpinan penguasa  ini seringkali menuntun pada tingkahlaku kepemimpinan yang penuh pelecehan dan menyimpang.
MODEL KEPEMIMPINAN KEHAMBAAN
Tuhan memanggil kita pada sebuah model kepemimpinan yang sama sekali berbeda. Dengan cara yang radikal Yesus, dengan teladan dan perkataan, menetapkan kehambaan sebagai cara pengikutNya memimpin orang lain. Yesus secara gamblang menolak semua model sekuler  dalam kepemimpinan dan menggantikannya dengan kehambaan.
Matius 23:10,12; 2Korintus 1:24; 2Korintus 4:5; 1Petrus 5:3.
Ada tiga nilai dalam kepemimpinan kehambaan yang perlu kita ketahui:
1.Beragam ekspresi kepemimpinan
Standaridisasi  menekan kebebasan dan menghilangkan motivasi orang – secara khusus mereka yang kreatif. Kepemimpinan kehambaan mengijinkan kebebasan untuk bervariasi dalam metode, gaya, bentuk, dan visi karena keberagaman dihargai dalam Tubuh Kristus.
2.Memberdayakan dan bukan meniru cara
Meniru cara yang sama akan memperlakukan semua orang percaya dengan cara sama dan mengharapkan mereka menjadi  dan bertindak sama dengan kita yang mendahului mereka.
3.Berpusat pada Firman Tuhan dari pada pragmatis
Pengambilan keputusan didasarkan atas kebenaran dan prinsip, bukan kenyamanan dan pemikiran pragmatis. Pelayanan seharusnya ditujukan pada yang membutuhkan dan bukan untuk mengejar pelayanan atau pilihan tempat yang lebih baik
Dua model kepemimpinan yang di atas dapat  terlihat dalam organisasi gereja ataupun sekuler secara nyata. Sekalipun nampak dalam manifestasi yang berbeda tapi dapat dikategorikan dalam dua model di atas.  Misalnya ada 3 tipe Kepemimpinan  yang terlihat jelas dalam organisasi gereja.:
Self appointted Leadership                                                  
Kepemimpinan yang ditetapkan oleh diri sendiri (Ambisi)
Men’s appointed Leadership           
Kepemimpinan yang ditetapkan oleh Manusia (pendidikan/suksesi dari orang tua)
God’s appointed Leadership
Kepemimpinan yang ditetapkan oleh Tuhan (Proses Tuhan dalam karakter & karunia )
                                                           
Kita semua mau menjadi pemimpin yang ditetapkan oleh Tuhan.
 
        Di hadapan Tuhan seorang pemimpin adalah seorang pelayan.
Ciri seorang pelayan : (Fil.2:1-11)
Turun ke bawah : Aspek kerendahan hati dan kelemahlembutan
Kerja keras untuk meyenangkan Tuannya
Pengorbanan untuk orang yang dilayaninya
Kasih menjadi motivasi utama. Semua yang di atas harus dimotivasi oleh kasih kalau tidak semua akan sia-sia.
 
        Standard Tuhan mengenai kepemimpinan sangat berbeda dengan standard manusia (dunia).
Standard dunia : memerintah dengan kekerasan dan menjalankan kuasa atas orang yang dipimpin
Standard Tuhan : Menyatakan kebenaran lewat kehidupan yang melayani.
Kepemimpinan menurut standard Tuhan sangat menuntut karakter lebih dari sekedar sebuah jabatan, di mana fungsi karunia yang dijalankan menurut Roh Kristus yang manis dan lembut.
Kehidupan seorang pemimpin (karakternya) sangat menentukan fungsinya dihadapan Tuhan.
 
        4 Ciri kehidupan pemimpin :
      Memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan lewat doa.
      Beriman hanya kepada Tuhan.
      Terkenal baik dalam hubungan dengan orang lain.
      Penuh Roh Kudus.
Hubungan kita dengan orang lain akan menyatakan hubungan kita dengan Tuhan
MENANGKAP ROH KEPEMIMPINAN
A good follower can be a good  leader
Tuhan tidak menghendaki umatNya berjalan tanpa pemimpin. Untuk itu Tuhan menghendaki kita ada di bawah kepemimpinan orang yang Tuhan tempatkan di atas kita untuk menangkap roh kepemimpinan yang Tuhan ingin taruh dalam roh kita melalui pemimpin-pemimpin yang diurapi oleh Tuhan.
Menangkap roh kepemimpinan lewat proses
Pembapaan
Mentoring
Pemuridan
Proses diatas semuanya membutuhkan waktu, commitment dan kesediaan untuk membagi kehidupan.

BERBUAH


BERBUAH
 
Yohanes 15:1-8
1."Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
2.Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
3.Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
4.Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
5.Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
6.Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
7.Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
8.Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
 
Kehidupan kita dalam hubungannya dengan Kristus digambarkan dengan begitu akurat oleh  Tuhan Yesus dalam pasal pembacaan ini. Dalam pernyataan Yesus ini kita melihat bahwa kekristenan yang berbuah merupakan akibat langsung dari hubungan yang intim dengan Yesus. Yesus berkata bahwa Dia adalah pohonnya sedangkan kita orang percaya adalah rantingnya (cabang). Sebuah hubungan yang tidak dapat disubstitusikan dengan yang lain. Ranting tidak bisa langsung mendapatkan makanan dari akar. Dari pembacaan ini kita dapat menarik beberapa hal penting mengenai berbuah.
 
1.      Bapa menghendaki (mencari dan mengharapkan) buah yang maksimal dari hidup kita. Melibatkan memotong dan membersihkan dalam proses mendapatkan buah.
2.      Berbuah adalah akibat hubungan intim dengan pokok anggur (Yesus)..
3.      Kita cuma punya dua pilihan Berbuah atau dibuang. Berbuah atau binasa
4.      Kehidupan yang berbuah adalah kehidupan yang mempermuliakan Bapa.
 
Mengapa berbuah sangat penting bagi kehidupan kekristenan kita, karena jika tidak ada buah maka kehidupan pasti punah. Kita harus mengerti bahwa di dalam kita telah diinvestasikan kehidupan Tuhan Yesus Kristus yang pasti akan bertumbuh. Sampai kemudian menghasilkan buah.
Kebanyakan orang kristen tidak dapat memahami arti dari tinggal di dalam Yesus atau memiliki hubungan intim dengan Yesus akan menghasilkan buah. Mereka selalu mengharapkan buah yang instant (seketika).
Hidup yang berbuah adalah suatu proses yang sangat alami dari pengalaman rohani kita.
Dalam pembahasan ini kita akan melihat beberapa proses yang alamiah dari kehidupan yang berbuah. Arti dari alamiah adalah  suatu proses terjadi dengan sendirinya bukan direkayasa atau direncanakan. Tetapi sebuah akibat natural dari sebuah proses seperti yang dikatakan dalam Yohanes 15:4.
 
1.      Berbuah sebagai akibat Pertumbuhan.
Kadangkala kita tidak menyadari bahwa masalah berbuah seperti yang Tuhan Yesus katakan adalah hasil natural dari pengalaman kehidupan supernatural yang memakan waktu. Markus 4:26-29 dalam terjemahan sehari-hari
4:26 Yesus menyambung pembicaraan-Nya lagi, "Bila Allah memerintah sebagai Raja, keadaannya dapat diumpamakan seperti seorang yang menabur benih di ladangnya.
4:27 Malam hari ia tidur; siang hari ia bangun. Dan sementara itu benih-benih itu terus bertumbuh dan menjadi besar. Tetapi bagaimana caranya benih-benih itu tumbuh dan menjadi besar, orang itu tidak tahu.
4:28 Tanah itulah yang dengan sendirinya mengeluarkan hasil: mula-mula tangkainya, kemudian bulirnya, lalu buahnya.
4:29 Dan kalau gandum itu sudah masak, orang itu pun mulailah menyabit karena sudah waktunya untuk menuai."
Ayat ini secara gamblang menunjukkan kepada kita bahwa hal berbuah adalah akibat dari pertumbuhan. Tapi dengan jelas ayat ini juga memberikan kepada kita prinsip rohani dari pertumbuhan itu sendiri,
        Pertumbuhan dimulai dengan menjadikan Yesus sebagai Raja. Suatu keputusan untuk menaklukkan diri kepada kehendak Tuhan Yesus Kristus.
Kenapa kita tidak menghasilkan  buah karena kita selalu gagal dalam menjadikan Yesus sebagai penguasa tunggal dalam kehidupan kita
 
Kemudian lihat bagaimana dikatakan dalam ayat yang ke 28; “bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah”.
Dapat dikatakan proses terjadi dengan sendirinya tergantung pada tanahnya apakah tanah itu subur atau tidak. Mark 4:8,20
4:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."
4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."
        Pertumbuhan sangat membutuhkan tanah yang subur yang adalah ketaatan kita pada Firman Tuhan. Ketaatan pada Firman Tuhan adalah atmosfir pertumbuhan.
Yang terakhir dari pertumbuhan adalah bahwa kehidupan kita sebagai pohon yang bertumbuh harus memiliki kondisi yang baik. Maz. 92:13-16
92:13  Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
92:14 mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
92:15 Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,
92:16 untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Di sinilah kita melihat di mana tertanamnya sebuah pohon akan mempengaruhi pertumbuhannya. Tertanam berbicara komitment; sebuah kehidupan yang terikat janji, suatu bentuk kesetiaan kepada kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Dalam ayat di atas disebut bahwa pohon tersebut tertanam di bait Allah. Punya pengertian tertanam dalam hadirat Tuhan.
        Pertumbuhan adalah sebuah kehidupan yang terikat terus menerus dalam hubungannya dengan sumber kehidupan.
Kehidupan yang bersumber dari kasih karunia Tuhan dan bukan karena kita sanggup. Para rasul berdosa supaya kita bertumbuh dalam kasih karunia.
 
Kesimpulan berbuah sebagai akibat pertumbuhan; 1 Kor 13:11
13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Kalau kita betumbuh menjadi dewasa kita akan produktif dalam menghasilkan buah.
 
 
 
 
2.      Berbuah sebagai akibat kematian
Yohanes 12:23-26
12:23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.
12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
 
 
Semua orang yang mempelajari makhluk hidup yang adalah ciptaan Tuhan akhirnya akan menemukan  sesuatu yang disebut oleh para ilmuwan sebagai “potensi alamiah” (potensi biotik). Ahli ekologi mendefinisikannya sebagai “kapasitas yang melekat dalam suatu organisme atau species untuk bereproduksi dan mempertahankan kelangsungan hidup”.
Konsep ini sama sekali tidak dikenal dalam dunia teknologi. Mesin tidak bisa melahirkan mesin. (beri contoh antara mesin pembuat kopi, dengan biji atau pohon kopi= mesin pembuat kopi dapat menghasilkan kopi untuk diminum, tetapi pohon kopi berbuah bukan saja biji kopi tapi pohon kopi yang lain).
Tapi mengapa harus mati sebagai jalan untuk berbuah?
Sewaktu berurusan dengan proses alam, potensi yang melekat ini (potensi biotik) perlu memiliki kendali yang bebas. Perbedaan antara potensi alamiah dan pertumbuhan yang terbukti (baik di laboratorium ataupun di lapangan) disebut tenaga penghambat lingkungan.
Walaupun jelas bahwa pertumbuhan tidak dapat “dibuat” atau dipaksakan, sangat penting untuk meminimalkan tenaga penghambat dari lingkungan bagi terciptanya kondisi yang terbaik untuk pertumbuhan.
Inilah yang Tuhan Yesus maksudkan dengan perkataanNya
Yohanes 12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
Ini mungkin adalah prinsip yang paling alami dan sekaligus penuh dengan keajaiban.
Ayat di atas adalah ucapan Tuhan Yesus Kristus yang memiliki nilai kebenaran kekal.
Di sini berbuah dalam arti yang lebih lebih luas. Kata yang lebih tepat seperti yang kita kenal sekarang adalah prinsip pelipatgandaan..
Pengertian kematian di sini adalah kematian bagi diri sendiri dan hidup bagi Tuhan Yesus. Yang dalam pengertian praktis adalah kehidupan yang diinvestasikan dalam kehidupan orang lain. Di mana kita tidak mementingkan diri kita tapi menyerahkan hidup kita untuk orang lain Bukankah ini adalah roh Yesus Kristus. Inilah prinsip yang dibawa oleh salib Yesus Kristus. Yohanes 12:32-33
12:32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku."
12:33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.
 
Perkara berbuah selalu berkaitan dengan kematian dan kehidupan, tidak pernah terjadi dengan metode atau sistem tetapi kuncinya adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa kehidupan, sistem tersebut tidak ada gunanya. Tetapi, apabila ada kehidupan, metode dan  sistem itu dapat menjadi sangat efektif. Bagian yang menakjubkan dari proses pertumbuhan alamiah adalah bahwa di dalam proses  ini teradapat beberapa mekanisme yang dapat membantu kehidupan berkembang dan bertumbuh dengan pesat. Meskipun demikian, masalah terpenting bagi setiap orang kristen adalah mengupayakan adanya kehidupan yang diperlukan untuk terjadinya pertumbuhan.
Kematian yang menghasilkan buah di sini berhubungan secara spesifik dengan pola hidup kita. Disini kita melihat bahwa kematian  terhadap “tenaga penghambat lingkungan” akan menghasilkan buah.
 
        Kematian bagi kedagingan  (kehidupan lama atau kehidupan dosa) adalah masuknya dalam kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus yang membawa kita pada kehidupan yang menghasilkan buah Roh Kudus. Efesus 5:19-23
 
        Kematian bagi Hukum Taurat  (cara-cara legalistik Agama) adalah kehidupan bagi Tuhan di mana bukan kita lagi yang hidup tapi Yesus yang hidup dalam kita. Sehingga rupa Kritus (kasih karunia dan kebenaran) menjadi nyata atas kita. Galatia 2:19-20.
 
        Kematian bagi dunia adalah kehidupan yang diperbaharui terus menerus sampai segambar dengan Tuhan Yesus. Kolose 3:5-10 ; 1 Yohanes 2:15-17
 
 
Proses pertumbuhan alamiah adalah pertumbuhan yang terikat oleh waktu dan mengandung  penghentian pertumbuhan dalam dirinya sendiri. Organisme bersangkutan tidak bertumbuh tanpa akhir tetapi bereproduksi ; suatu bentuk pertumbuhan yang melampaui individualitasnya sendiri.
Semua makhluk hidup ciptaan Tuhan dicirikan dengan kemampuan menghasilkan buah dan tujuannya sekali lagi tidaklah hal yang lain tapi menghasilkan sifat yang sejenis dengan kata lain species yang sama.
Pelipatgandaan adalah proses reproduksi yang sama sifatnya di mana kita akan mengetahui bahwa buah sejati dari pohon pisang bukanlah pisang itu sendiri tetapi pohon pisang yang lain. Buah sejati dari seorang penginjil bukanlah jiwa baru tapi penginjil yang baru. Buah sejati dari seorang gembala bukanlah seekor domba (anggota jemaat) tapi justru gembala yang lain.
 
 
3.      Berbuah karena kasih karunia
Lukas 13:6-9
13:6. Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.
13:7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
13:8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
13:9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"
 
Dalam perumpamaan di atas kita menjumpai bahwa sekali lagi bahwa Bapa menghendaki buah. Satu hal yang perlu kita ketahui dari buah adalah bahwa buah itu kelihatan secara jasmani. Itulah sebabnya kita dapat mengenal seorang berkualitas atau tidak dari buahnya (Mat 7:15-20 baca) . Buah yang kelihatan itu bisa berupa perkataan, perasaan atau pikiran, sikap mental, tindakan, tingkah laku ataupun reaksi-rekasi kita terhadapa masalah yang datang dalam kehidupan kita. Itulah sebabnya kita menemukan bahwa Yesus satu kali melihat sebuah pohon yang rindang tapi tidak berbuah  reaksi Yesus adlah mengutuki pohon ara itu.  Dalam Markus 11:12-14
11:12. Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar.
11:13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.
11:14 Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nyapun mendengarnya.
 
Perumpamaan dalam Lukas menunjukkan keadaan kehidupan orang kristen yang mandul (tidak berbuah). Kelihatannya penyebab utamanya adalah tumbuh dalam tanah yang salah (dasar yang salah). Kita sudah lihat dalam poin 1 bahwa pertumbuhan sangat ditentukan oleh faktor tanah, dan faktor pohon itu sendiri. Kehidupan yang tidak berbuah adalah kehidupan yang percuma.
Kehidupan yang berbuah selalu terikat waktu dan Tuhan pun selalu mengerti mengenai waktu tersebut. Untuk kehidupan yang tidak berbuah Tuhan tetap memberikan kasih karunia berupa;
        Kesempatan untuk berbuah. Sebagai orang kristen yang tidak berbuah kita perlu sekali menangkap kesempatan untuk menghasilkan buah. Ingatlah hukum alam ini bahwa buah selalu muncul pada musimnya. Dan musim itu disebut musim perubahan. Dan buah yang kita hasilkan seharusnya merupakan tanda kita masuk dalam musim perubahan.
 
Pengkhotbah 3:1-11
3:1. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
3:11. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.
3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
3:14 Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
3:15 Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.
 
Kita mengetahui bahwa kunci dari ayat-ayat kontroversial di atas adalah supaya kita memahami bahwa musim apapun yang kita lewati atas kehendak Tuhan  itu indah pada waktunya dan yang paling penting supaya Tuhan menaruhkan hal-hal yang kekal dalam kita sebagai buahnya. Apakah hal yang kekal itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah sifat-sifat Tuhan sendiri. (Kisah naik mobil hujan-hujan untuk buah kerendahan hati). Kita perlu mengenali kesempatan untuk berbuah. Kesempatan untuk berbuah adalah kasih karunia.
 
 
        Proses-proses Vertilisasi, Pemberian pupuk Ini yang dimaksud dengan diberi pupuk supaya bisa berbuah. Ini biasanya sebuah situasi yang tidak enak sebuah pengalaman lembah yang akan menghasilkan kerendahan hati Sehingga berhenti dari melakukan kehendak sendiri dan mulai melakukan kehendak Tuhan.
Pemberian pupuk ini berarti diberi sampah (bhs Inggris menyebutnya DUNK). Arti rohani dari pemberian pupuk adalah tantangan, oposisi atau hal-hal yang datang dalam bentuk krisis. Di sinilah kita dituntut bukan melawan oposisi dengan tenaga kita. Justru kita dapat menggunakan kekuatan oposisi untuk keuntungan dan kemajuan kita. Kita dapat menggunakan prinsip olahraga berselancar dan bukan bertinju. Kalau dalam bertinju kita mengumpulkan tenaga untuk menghantam oposisi kita dan setelah melepaskan pukulan pada oposisi kita biasanya tenaga kita terkuras, tetapi kalau berselancar kita justru menggunakan tenaga ombak atau gelombang untuk meluncur diatasnya. Itu punya pengertian bahwa kita harus menggunakan krisis secara kreatif untuk dapat berselancar di atasnya yang hasilnya adalah kemajuan kita.
 
 
 
4.      Berbuah Karena Menabur.
 
Ada satu hukum yang tidak akan pernah berhenti berlaku dalam kehidupan ini selama bumi masih ada dan hukum itu adalah hukum menabur dan menuai. Sebab Tuhan berfirman:
Kejadian 8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."
Kita hanya menuai apa yang kita tabur. Artinya kita hanya menuai yang sejenis dengan yang kita tabur. Saudara tidak mungkin menuai anggur kalau saudara menabur durian misalnya.
Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai tabur tuai ini saya sebaiknya akan membuat perbedaan yang jelas mengenai hukum tabur tuai ini dibandingkan dengan hukum karma yang diyakini oleh penganut agama Hindu. Dalam Buku “The World Religion” Bruce J. Nicholls menyatakan hal ini:
Karma adalah “tindakan” atau “perbuatan” yang merupakan suatu penafsiran dari hukum alamiah tentang sebab akibat di mana setiap tindakan adalah akibat dari suatu sebab dan pada saatnya akan merupakan sebab dari suatu akibat.
Sesuai dengan hukum karma seseorang bisa saja lahir kembali sebagai dewa, anggota dari kasta yang tinggi atau rendah bahkan menjadi binatang, sesuai dengan setiap pikiran, perkataan atau perbuatannya. Setiap orang untuk itu selalu membawa masalalunya, bahkan mereka adalah masalalu mereka.
Hukum ini adalah prinsip dari reaksi moral yang berlaku baik untuk hal yang baik ataupun jahat. Seperti yang ditabur orang itu yang dituainya. Perbuatan jahat menuai penderitaan dan keterikatan bagi keberadaan manusia sedangkan perbuatan baik menuntun pada kemerdekaan dari keterikatannya. Seperti hukum ini tidak dapat dihindarkan dalam alam ini begitu pula hukum ini pasti dalam alam rohani[1].
Sedangkan dalam Firman Tuhan ada suatu keadaan yang mengubah kehidupan manusia yaitu pertobatan. Kalau dalam hukum karma keadaan manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri (ciri dari agama) maka dalam Firman Tuhan ada yang disebut dengan intervensi Tuhan dalam menolong manusia keluar dari masalah dosa dalam kehidupan mereka. Hukum tabur tuai dalam Alkitab adalah hukum yang menyatakan keadilan Allah tapi bukan berarti dalam keadilanNya Tuhan tidak lagi berbelaskasihan. Di sinilah kasih karunia akan sangat berarti.
Sekarang mari kita lihat bagaimana kita berbuah karena menabur;
 
Apa yang kita tabur ?
Kita perlu memperhatikan apa yang kita tabur. Gal 6:7-10
6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.
6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.
6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
 
Arti menabur di sini adalah pikiran, perkataan dan tindakan yang kita hasilkan dalam kehidupan. Ada pernyataan yang berkata menabur pikiran menuai tindakan, menabur tindakan menuai kebiasaan, menabur kebiasaan menuai karakter dan menabur karakter menuai dalam kekekalan.
Dalam ayat yang kita baca kita harus perhatikan baik-baik kata ini: jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Punya pengertian kita semua manusia menabur di hadapan Tuhan. Untuk itu bersikaplah benar.
Dalam ayat di atas kita harus menabur dalam Roh, punya pengertian bahwa perkataan, pikiran dan perbuatan kita seharusnya lahir dari kehidupan yang dipimpin atau dikuasai oleh Roh demikian juga sebaliknya dengan kehidupan kedagingan.
Di sinilah kita perlu sekali untuk membuat keputusan dalam kasih karunia Tuhan untuk setiap saat dikuasai oleh Roh Kudus.
 
Bagaimana Kita menabur?
Dengan menunjukkan sikap mental yang baik kepada sesama kita, secara khusus saudara-saudara seiman.
Berbuat baik kepada sesama yang didasari oleh cinta kepada Tuhan dan cinta pada sesama.
 
2 Kor 9:6-15
9:6. Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
9:9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."
9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;
9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.
9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,
9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.
9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
 
        Kita harus menabur banyak.
        Kita harus menabur dengan rela.
        Kita harus tahan uji dalam menabur.
 
Buah dari menabur seperti yang Tuhan kehendaki
 
        Berlimpah dalam Kasih Karunia
        Berkecukupan dalam segala sesuatu
        Berkelebihan dalam pelbagai kebajikan
        Diperkaya dalam segala macam kemurahan hati

BREAKTHROUGH TIMING


Hi all,
The Lord's interaction with the lame man in John 5: 1-16 illustrates how the Lord brings breakthrough into our lives in all areas, not just the healing listed there, so I'd like to share about it.
 
I'm talking about breaking through hopelessness and frustration and into a fulfillment of what's on our heart. You know the frustration - where everything you do seems not to be blessed (and even thwarted), and you wonder if the path you have been on which you thought was God has been self-deception, or just for a season, or sin and error - you really don't know for sure.
 
Such was the case of the man who had been lame 38 years. The situation was that an angel came at various times to stir the waters, and then the first person down into the water would get healed. The man desperately wanted to get down to the pool, but he had no one to help him, so someone beat him to the fulfillment of his dream and goal every time. Sound familiar? 
 
Timing
This man was hoping that God would arrange the timing of his life so that several things would come together all at once. He was hoping a mixture of faith and the right circumstances brought about by God partnering with him would bring his answer. In his case that the pool would be stirred and at the same time someone would come along to help him down into the water before anyone else, and then he would be healed. 
 
Verse 6 says "When Jesus saw him lie, and knew that he had been now a long time in that case, he said to him, Do you want to be made whole?"
 
This healing, and the larger principle taught here, has to do with the mercy and grace of our Lord and not this man's faith. 
 
(1) That is the first thing to remember, to look to the Lord and his mercy and grace to help in time of need. In the final analysis it will still be his grace, not our efforts that bring about our answer. He sees you there and knows you've been a long time in that condition, and he offers help. Once Jesus shows up, it doesn't matter how long you've been in that condition.
 
The question
Jesus asked, "Do you want to be made whole? It sounds like a stupid question to a man who hasn't walked in 38 years doesn't it? And that's the situation in our lives too; of course I want to be made whole in whatever area - healed, prospered, fulfilled dream, business, etc. If the answer is obvious, why did Jesus ask it, and why does he ask it of us today?
 
(2) This is the 2nd thing to understand, Jesus asked the question to focus the man's attention back to his desire. The man could have answered Jesus sarcasticly: "Why do you think I'm here?" Instead, he humbly answered it as best as he knew. We stumble over the humility and child-like faith required of our answer.
 
In the midst of our "lameness" in a situation, especially if we have been in that condition some time or are exhausted from our efforts, the Lord will cause us to focus on that desire once again. We must respond to his voice in humility, going back to square one, to refocus our attention on him, laying aside all the distractions around us. Verse 3 tells us there were "a great multitude of lame, blind, and maimed people waiting for the waters to stir". Jesus asked this man to focus on him and answer the question, thus once again clearly defining it in his mind.
 
We tend to get lost in the stress of what's happening to us, so we complain, stating the problem to the Lord rather than our desire. Jesus helped the man focus on the essential goal, stripping away the distractions around him just to look into the face of Jesus. Focus on the Lord, not the problems.
 
The answer
The answer this man gave reveals his limited thinking. He has only one way he thinks God will come through for him: "Sir, I have no man, when the water is stirred up, to put me into the pool; but while I am coming another steps down before me." He wanted healed, but he only saw the answer through the information he had already. Everything in life had told him the order of events was that an angel would come, then some stranger would help him into the pool, then he'd be healed. He could not think outside of his life experience and education to consider the answer might be through a way he had never thought.
 
Thwarted efforts
This man tried to bring about his healing as best as he understood he could, but was thwarted by others - someone else always seemed to get the blessing first. 
 
It's like a business person just on the edge of closing a deal, then someone else gets it. It's like someone's prayers for a family member almost get answered, then something happens to cause it to not happen. The man had been dealing with this frustration 38 years, and at some point earlier perhaps even wondered if the Lord really wanted to heal him, yet his desire to be healed remained. 
 
Your way or his way?
(3) So this is the 3rd point: This man could only see his fulfillment coming by a way he could think of. We must lay aside our thoughts about how we think such and such would play out and consider that the Lord may have a way outside our life and educational experience. Lay out for the Lord how you thought it would happen, but then go back to the start and just answer the question, stating the desire of your heart.
 
As we do #2, focus on Jesus and the basic question of "Do you want to be made whole?", we must let every pre-conceived idea fall to the wayside to be consumed with Jesus standing before us, asking us to break it down to that one question - do you want wholeness?
 
Years ago when we were in the midst of turmoil in every area of our lives, the Father asked me one day: "Where have you always felt the most fulfilled?" That question stripped away all the confusion in my mind as I focused on that one element down through the years that caused fulfillment, and in the end, I realized it was helping the discipleship process with people who were serious about growth. As I looked at my life experiences and saw that gift function within many different types of structures (church and business) over the years, I regained peace that the Father would move us into a place of fulfillment once again. (And he did).
 
The gifts God gave you when he created you can function within any number of business or church structures; often it's a matter of discovering which structure the Father has next for you to function in.
 
His question about fulfillment to me was the same as "Do you want to be made whole?" to this lame man. It caused all the confusion and frustration to fall away and allowed me to focus on the Lord only.
 
Without further discussion Jesus said to him, "Rise, take up your bed and walk", and immediately the text says the man was made whole, and then once whole, took up his bed and walked.
 
Healed first, then walk...
Above, I've brought out 3 points: The answer is based on the Lord's grace, focus on the Lord and the essential question, and humbly consider the answer will come outside your efforts, life experience and education.
 
These elements brought the man to the point Jesus could command healing. Jesus didn't even tell him ahead of time his healing would come in a way different than the man had imagined, he just healed him.
 
...or trying to walk before being healed?
He could not "rise" until he was healed, and I think many people are trying to take up their bed and walk, whatever "their bed" happens to be - work, business, ministry, family issue - before being "healed". One of the most important things this man did was acknowledge that he had no answers, that what he had done before didn't work. This humility and admission of his own failure allowed the Lord to respond to his heart.
 
The frustration is that we are willing to learn whatever lesson the Lord wants us to learn, if he would just tell us what it is! But when we prune a tree we don't tell it why we are doing it, we as humans can see the big picture and the more fruit coming after the tree heals and puts out new shoots, but at the time we just prune it. In the same way, the Father doesn't always tell us why we are being pruned. Jesus said wisdom is justified by her children, which means the offspring or result of a decision made in wisdom is seen on down the road to successive generations of decisions and outcomes. We must be willing to be healed first before we try to take up our bed and walk.
 
Goes against the grain
Of course Jesus healed the man on the Sabbath, which made people around him angry to the point they plotted to kill him (v16). Understand that the way the Lord brings about the healing of your situation will not only come outside of the way you've been thinking, but it will confound and even anger some people. This is because they too have ideas about your life and the direction they think it should go (or not go), and when you start moving at the Lord's direction, they will be angry with you.
 
New walk 
If you consider this man had been at least 38 years in that condition, his muscles would have to be built up and exercised as he walked. So it is with us. On the other side of God's grace, it's old muscles that haven't been used in this way before that need exercising. It may be a new direction, new structure within which your gifts will flow, it may hurt a bit as those muscles come up to speed - but it is God's provision for you.
 
Some will rejoice with us, some will be upset, but for us it will be a matter of using muscles that haven't been used in a long time, or perhaps never in that way, but WE must walk it out.
 
Warning
In typical fashion, Jesus quickly moved on so that the man didn't even know who it was who had healed him. That's like the Lord today, coming to us to heal our situation, then fading into the background as we walk out what he did for us.
 
But in verse 14 Jesus finds the man and warns him; "Look, you've been made whole; sin no more lest a worse thing come upon you." In other words as it applies to my topic today, learn from what made you lame and don't ever go back there. Learn from your mistake and never come that way again.
 
Whatever situation we are facing, we are in it because of decisions we've made. We must acknowledge that and then learn from those decisions, yet still walk it out. Even if we look back and can say with a clear conscience that what we did we did unto the Lord, we must learn where we got off and never repeat it.
 
Full circle
The first of the 3 things I mentioned had to do with realizing the 'healing' of our situation would be a matter of God's grace and not our efforts, though we must cooperate with the Lord certainly, and this is where we end.
 
When Jesus was questioned by the religious leaders about why he healed the man on the Sabbath, Jesus said "Truly I say to you, the Son can do nothing of himself, but whatever he sees the Father do, for whatever he does, so does the Son likewise." (v19)
 
Jesus healed the man because he saw the Father wanting to heal the man. It was the Father who first saw the long time condition and directed Jesus to grant him that mercy and grace to help. Our efforts therefore should really be focused on intimacy with the Father. Hebrews 4:16 tells us to come boldly to him to receive mercy and grace to help in time of need;  Seek the Father, he is the Answer to all.
 
Some thoughts this week,
Blessings,
John Fenn
www.ifaithhome.org
cwowi@aol.com
Skype: JFennTulsa

Kamis, 24 April 2008

PEMBAPAAN


FATHERHOOD
 
Pendahuluan
Ini adalah salah satu faktor yang angat serius dan penting dalam kehidupan kita. Statistik dari majalah TIME & US Newspaper menunjukkan bahwa :" Dad is Destiny"
38% anak di Western World hidup tapa ayah biologis (th 99 , th 1960 hanya 17,5%)
Lebih dari 50% anak menghabiskan separuh hidup mereka tanpa ayah.
Tanpa Bapa berhubungan erat dg mimpi buruk masyarakat seperti anak remaja yang membawa pistol, gadis remaja dengan bayi.
46% keluarga dgn anak yang dipimpin oleh seorang ibu saja hidup dibawah garis kemiskinan dibandingkan keluarga yang lengkap (ayah ibu) hanya 8%.
43% dari org yang ada dipenjara dinyatakan hidup dan bertumbuh dalam keluarga yang tanpa ayah.
Tanpa ayah dapat dipastikan sebagai penyebab untuk aktifitas kriminal dalam kehidupan anak muda.
Pakar sosiologi sekarang telah menghubungkan ketiadaan ayah dengan : drop out, jobless, kecanduan obat, bunuh diri, ataupun target dari pelecehan seksual.
Hanya 51% yang  hidup dalam keluarga yang lengkap.
Di Indonesia menurut Media Indonesia (Sabtu 13 Oktober 2001) mengutip Ginekolog dan Konsultan seks dr. Boyke Nugraha SpOG mengatakan: "sekitar 2,5 juta wanita Indonesia setiap tahun melakukan aborsi. Mayoritas pelaku; wanita remaja yang belum menikah."
Pentingnya memiliki Bapa
Kehormatan teringgi yang Tuhan taruh dalam kehidupan seorang pria adalah menjadi ayah. Karena Tuhan memilih titel, sebutan, panggilan untuk diriNya sebagai Bapa.
Kebapaan adalah pekerjaan yang terutama bagi para pria. Tidak ada yang lebih lengkap bagi seorang pria untuk mencapai kepenuhan kecuali menjadi ayah. Itu bukan berarti hanya memiliki anak jasmani.
Ayah adalah kunci untuk dosa dan juga kunci solusi dari dosa. Konsep kebapaan telah merupakan penyebab manusia jatuh dalam dosa dan juga konsep pembapaan yang akan menjadi penyelamatan manusia. Kuasa dari pembapaan telah menjadi bukti dalam konsep Tuhan yang tertulis dalam ALkitab.
Dosa adalah akibat dari manusia menyatakan independen dari Bapa mereka. Dosa adalah masalah tanpa ayah. Manusia  dalam dosa menderita ketiadaan ayah. Itulah masalah utama kita.
Tuhan sendiri melihat pembapaan sebagai jalan keluar bagi masalah dosa ini.
Maleaki 4:5,6
Kunci untuk keluarga, masyarakat, gereja, kota, bangsa adalah roh kebapaan.
 
Defenisi:
Kata bapa berasal dari bahasa Ibrani Abbah, ini sebenarnya adalah sebutan (title) dan arti dari kata ni adalah sumber atau pemelihara.
Untuk menjadi abbah saudara harus menghasilkan sesuatu dan memeliharanya.
Bahasa Yunani dari bapa adalah Pater yang berarti sumber dan pemelihara atau yang mendukung.
Kata bapa disebut juga sebagai fondasi dari semuanya.
 
Tanggungjawab Seorang Bapa.  Kej. 2:15
Prinsip yang dahsyat adalah Tuhan selalu menyelesaikan pekerjaanNya sebelum Dia memulainya. Yes 46:10,11
Waktu Tuhan menjadikan Adam, sebenarnya Tuhan telah selesai menjadikan semua umat manusia.
Hal yang pertama Tuhan lakukan adalah menempatkan Adam dalam Taman Eden (presence of moment or spot), punya arti tempat atau moment dimana hadirat Tuhan menyentuh bumi; itu artinya, apa yang manusia butuhkan pertama adalah hadirat Tuhan dan bukan perempuan atau laki-laki. Kemudian Tuhan memberikan tugas pertama kepada Adam untuk bekerja (menghasilkan/produktif) . Itu memberikan pengertian bahwa sebelum pria diberikan wanita dia harus bekerja dulu. Kemudian Tuhan meminta Adam untuk memelihara atau melindungi semua yang dipercayakan kepadanya. Setelah itu Tuhan menugaskan Adam untuk mengolah (cultivate) yang punya pengertian mengeluarkan yang terbaik dari dalamnya, menyebabkan berkembang. Kemudian Tuhan mempercayakan pada manusia FirmanNya.
Untuk hal-hal di atas inilah Tuhan mau seorang bapa bertanggungjawab. Setelah itu baru Tuhan berkata dalam ayat 18; Tidak baik manusia seorang diri. pengertian sendiri adalah all in one (semua dalam satu) makanya Tuhan membuat penolong yang sepadan supaya manusia menghasilkan yang sejenis, artinya berasal dari sumber yang sama. .
Sonship (Keputraan)
Yohanes 10:29,30; 8:
Menghasilkan yang sejenis inilah yang disebut putra (son). Arti dari putra bukanlah laki-laki tapi keturunan (offspring). Sama seperti Bapa demikian juga putra tidak pernah menunjuk pada gender tapi pada title (sebutan), lebih kepada fungsi dan bukan pada jabatan.  Sonship adalah identitas kita, yang berarti bahwa kita berasal dari sumber (Bapa) yanag kudus. Itulah dna kita. Saudara tidak berusaha untuk menjadi kudus, saya tidak berdoa untuk mejadi kudus, tidak bergumul untuk menjadi kudus, tidak memakai krah baju terbalik untuk menjadi kudus, tapi saya kudus karena sumber (Bapa) saya kudus.

JAWATAN RASUL


JAWATAN RASUL
 
Defenisi:
Rasul = Apostolos = The sent one = yang diutus.
Note:
Yang dibahas di sini adalah rasul-rasul yang masuk dalam kategori lima jawatan
 
Rasul-rasul bukanlah:
        Merintis banyak jemaat
        Menulis banyak buku
        Senior dalam pelayanan
        Pemimpin tim pelayanan
        Travel dan punya pelayanan Internasional
        Prominent dan popular
Ternyata bahwa nilai-nilai yang menjadi standard dalam gereja masa kini tidaklah secara akurat Alkitabiah
 
Rasul adalah
        Seorang yang dipanggil oleh kehendak Allah. 1 Korintus 1:1, Galatia 1:1
        Seorang yang ditetapkan oleh perintah Allah. 1 Timotius 1:1
        Bergerak dalam Anugerah Kerasulan. Efesus 3:2,8
Hal yang terpenting dari pelayanan Kerasulan adalah Anugrah Kerasulan yang mereka bawa dalam gereja Tuhan. Sehingga mereka dapat membawa dimensi kerasulan bagi hidup orang kudus
Kasih Karunia: Sumber-sumber ilahi atau Karakteristik Ilahi yang Tuhan mau impartasikan bagi gerejaNya.

KARAKTERISTIK PELAYANAN PARA RASUL
A.Meletakkan dasar gereja.
Pelayanan ini melibatkan dua hal:
Menghancurkan dasar yang lama
Membangun dasar Ker. Allah yang baru
Menetapkan Struktur kepemimpinan rohani dalam gereja yang dirintis.
Pelayanan ini sangat konfrontatif yang mengubah paradigma. KPR 19:1-11;
Ahli bangunan yang cakap meletakkan dasar.  1Korintus 3:10
 
B.Roh Pioner yang sangat tajam dalam pengembangan dan perluasan Kerajaan Bapa. Roma 15:20
C.Menyingkapkan pada Gereja Kekayaan Kristus yang tak terduga yang menuntun pada dimensi baru dalam Kristus. Efesus 3:2,8
D.Selalu melihat gambar besar dari sebuah pergerakan ataupun selalu berpikir jaringan & Kemitraan. KPR 20
 
ANUGERAH KERASULAN
1 Korintus 15:9-11
Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.
 
Paulus berkata bahwa fungsi kerasulannya sangat ditentukan kasihkarunia yang bekerja di dalam dirinya dan melalui dirinya.
Dimensi inilah yang di bawa oleh para rasul yang kemudian diimpartasikan kepada orang kudus, supaya orang kudus menerima anugerah kerasulan itu agar dapat berfungsi seperti para rasul berfungsi dalam keseharian mereka.
 
PROSES PENETAPAN PARA RASUL
Matius 10:1-5
Dipanggil (menjadi murid)
Diperlengkapi (diberi kuasa)
Diutus
PROSES BANGKITNYA KERASULAN DI LUAR YERUSALEM - KPR 13:1-3
Observasi dari Kis 13:1-4
Pelayanan Tubuh                      :  berdasarkan jemaat,  Kis 13:1
Karunia Rohani                         :  Nabi-nabi & pengajar ay.1
Disiplin Rohani              :  Penyembahan, ibadah dan berpuasa. Ay.2
Dinamika Rohani                      :  Mendengar suara Tuhan; karunia bekerja, ay. 2
Disiplin Rohani                          :  Berdoa dan puasa lebih lagi, ay.3
        Pelayanan Tubuh                      :  Kesatuan mengkhususkan (dan menemukan) dengan penumpangan tangan, ay 3
        Berdasarkan jemaat                  :  Tapi bukan terikat pada gereja lokal(dilepaskan) ay.3
Otoritas Rohani                        :  Di utus oleh Roh Kudus, ay. 4
Paulus dan Barnabas tadinya tidak dikenal sebagai Rasul tapi setelah melewati proses penetapan dan pengkhususan  dan pengutusan maka pada KPR 13:43 untuk pertama kalinya mereka disebut sebagai rasul
 
APA YANG DIBAWA OLEH PARA RASUL
Kuasa untuk membangun struktur rohani dalam kehidupan manusia.
Ketepatan dalam pewahyuan Ilahi supaya orang kudus dapat mengerti tujuan-tujuan Tuhan.
Kekuatan pembapaan
Kenyataan dari pemerintahan Tuhan dalam GerejaNya
Kuasa terobosan perintisan jemaat dalam   GerejaNya.
Tingkat yang lebih tinggi dalam pertempuran rohani
Tingkat yang lebih tinggi dalam kuasa dan karakter Yesus Kristus
Tingkat kepekaan yang lebih tinggi dalam alam rohani.
 
KEMITRAAN DALAM KERASULAN
Para rasul dan penatua selalu membahas konflik gereja. KPR 15
Rasul dengan rasul mereka merebut kota. KPR 13-14
Rasul dan nabi menggoncangkan bangsa-bangsa, shakes the foundation and set the captives free. KPR 16
 

JAWATAN PENGINJIL

JAWATAN PENGINJIL
 
Definisi Istilah
Euaggelizo : Kata ini berarti "berkhotbah, menyatakan atau mengumandangkan kabar baik".
Kata ini memberitahukan kepada kita tentang pelayanan penginjilan.
Euaggelion : Kata ini berarti "Injil atau Kabar Baik". Kata ini memberitahukan kepada kita tentang berita dari penginjil.
Euaggelistes : Kata ini berarti "seorang pengkhotbah atau utusan kabar baik". Kata ini menunjuk pada orang yang menyampaikan Injil.
 
Yang bukan Penginjil
Orang yang banyak berkhotbah
Orang yang banyak bersaksi
Yang melakukan mujizat-mujizat
Memenangkan banyak jiwa
Melayani berkeliling dari kota ke kota
Memimpin kebaktian-kebaktian yang besar (KKR?)
 
Seorang Penginjil adalah:
Seorang yang menerima kasih karunia Penginjilan untuk diimpartasikan bagi orang percaya.
Memiliki beban yang secara tetap tertuju pada orang berdosa.
Belaskasihan yang besar terhadap orang berdosa dan yang jauh dari Tuhan
Pemberitaan Injil yang sederhana tapi diikuti oleh tanda-tanda heran dan mujizat
 
Yang Terpenting
Memberdayakan orang percaya dengan kasih karunia yang Tuhan berikan supaya orang percaya melakukan tugas penginjilan supaya Injil kerajaan Tuhan menerobos kesemua lini kehidupan.
Dengan demikian pandangan tentang every believer evangelism menjadi kenyataan
 
ORIENTASI
Orientasi ke dalam
memperlengkapi orang percaya
Orientasi ke luar
Melakukan tugas penginjilan dalam penjangkauan orang berdosa di tempat di mana mereka berada.

JAWATAN PENGAJAR

JAWATAN GURU
 
DEFINISI
Arti dari pada kata ‘Guru’ = ‘didasko’ = Master, instructur,
Kata Yunani utama yang digunakan berhubungan dengan pelayanan mengajar adalah didasko. Akar kata ini berarti "mengajar" atau "memberi petunjuk". Ini adalah proses menjelaskan atau menerangkan sesuatu. Melalui proses ini, pengetahuan atau pengajaran diberikan dan ditanamkan kepada orang lain.
 
YANG BUKAN GURU
        SEORANG DENGAN PENGETAHUAN YANG TINGGI DAN BANYAK
        SEORANG DENGAN TITEL YANG BANYAK
        SEORANG DENGAN PENGALAMAN MENGAJAR
        SEORANG YANG FASIH LIDAH
 
SEORANG GURU ADALAH
        MEMPEROLEH ANUGERAH UNTUK MENGAJAR
        MEMPEROLEH KUNCI PENGETAHUAN
        MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK MENJELASKAN FIRMAN SEHINGGA DIMENGERTI
        MEMILIKI OTORITAS DALAM MENGAJAR
 
OBJEKTIF DARI JAWATAN GURU :
MEMPERLENGKAPI ORANG PERCAYA DENGAN DETAIL KEBENARAN YANG AKAN MEMBUAT ORANG KUDUS MELIHAT KEBENARAN TERSEBUT SEBAGAI SUATU LANGKAH PRAKTIS YANG DAPAT DIAPLIKASIKAN
 
 
APAKAH YANG MEREKA AJARKAN?
        PRINSIP
        NILAI-NILAI
        IMPLENTASI
        LANGKAH PRAKTIS
 
KEHIDUPAN SEORANG PENGAJAR
        Seorang pengajar haruslah tidak pernah berhenti belajar (Roma 2:21).
Kehidupam pengajar adalah seorang yang belajar dan mempersiapkan diri secara terus menerus. Ada pelajaran-pelajaran harian yang harus dipelajari dalam sekolah Roh Kudus (1 Korintus 2:13).
        Seorang pengajar harus memahami Firman Allah (Markus 12:24).
Firman Allah adalah dasar pelayanannya. Ia tidak dapat mengajar apa yang tidak diketahuinya -- atau belum diterapkan dalam hidupnya.
        Ia harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit (Matius 22:16-46).
        Ia harus mampu menerapkan kebenaran Alkitab dalam situasi kehidupan (Markus 9:14-29).
        Ia harus mampu memantapkan dan meneguhkan orang yang baru percaya dalam Firman Allah (Ibrani 5:12).
        Seorang pengajar harus mampu mengajar melalui teladan (Yohanes 13:13-14).
Jika seorang pengajar tidak melakukan apa yang ia ajarkan, ia tidak lebih baik dari orang-orang Farisi (Matius 23:1-3). Yesus selalu melakukan apa yang Dia khotbahkan -- Dia melakukan apa yang  Dia ajarkan kepada orang lain (Kisah 1:1). Berita terbesar yang kita berikan bersumber dari siapa diri kita -- bukan apa yang kita katakan!
        Seorang pengajar harus mengajar dengan jelas dan tepat (2 Timotius 2:15).
Seorang guru harus dengan jelas menyampaikan arti dan maksud sesungguhnya dari Firman Allah. Karunia ini mengandung tanggung jawab untuk mengajar orang lain dengan tepat.
        Seorang pengajar berusaha untuk membawa orang lain pada tingkat pengertiannya (Matius 10:24-25).
Paulus mengajarkan semua kebenaran Allah yang ia ketahui kepada mereka yang memikul tanggung jawab. Ia tidak menahan sedikitpun, semua itu untuk kebaikan mereka (Kisah 20:20,27).
        Upah terbesar seorang pengajar adalah melihat hidup manusia diubahkan oleh Firman Allah (Ulangan 4:5,14 ; 31:12-13).
Firman Allah mengerjakan mujizat besar saat diajarkan, diterima dan ditaati.
        Seorang pengajar harus didukung oleh mereka yang ia layani (Galatia 6:6).
Seorang pengajar harus bisa bekerja full-time pada pelayanannya. Ini memerlukan doa, studi, persiapan dan pengajaran Firman Allah. Pengajaran adalah pekerjaan berat. Dan seorang pekerja layak mendapatkan upahnya. Jika seorang pengajar tidak didukung oleh umat Allah, seluruh gereja akan menderita sekali.
 
MEMPERSIAPKAN PENGAJARAN
Mempersiapkan dan mengajar memang penting, tapi satu hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana kita mengajar. Disini ada beberapa pertolongan:
        Kreatif        - Gunakan ilustrasi, humor, drama, diskusi.
        Relevan      - Hubungkan kebenaran Firman Allah dengan apa yang sedang terjadi dengan kehidupan. Gunakan hubungan yang mereka  ketahui.
        Otoritas      - Lihat contoh Yesus - mengajar dengan otoritas. Orang kudus mencari seseorang yang mengatakan apa yang harus mereka lakukan.
Berkata dengan berani, jangan takut pada mereka.
        Antusias     - Alkitab mengajarkan untuk terus bersemangat dalam Roh.
        Transparan - Jadi diri saudara yang real, asli, sungguh-sungguh dan jujur ketika berhubungan dengan kaum muda.
        Balance      - Seimbang. Ada dua pendekatan bagaimana kita seimbang dalam mempersiapkan pengajaran bagi kaum muda.
        Belajar Alkitab itu sendiri dan aplikasi prinsip-prinsip dalam kehidupan
        Pusatkan perhatian pada masalah tertentu dalam kehidupan kemudian selidiki Firman Tuhan untuk jawaban yang Alkitabiah
 
Mengajar dengan taktis
1.      Pilih satu topik yang relevan untuk diajarkan.
2.      Pelajari dan selidiki dengan seksama.
3.      Tambahkan ilustrasi (contoh-contoh) yang relevan dan up to date dari berbagai sumber.
4.      Buat kerangka materi dan selalu berhubungan dengan langkah-langkah praktis yang butuh tindakan.
5.      Pilih judul yang kontemporer dan relevan.
6.      Susun gambaran atau perumpamaan untuk memperluas berita yang akan disampaikan:
7.      Mengajar dengan kreatif dan penuh gairah, lakukan sesuatu yang lain.