Rabu, 05 Maret 2008

GEREJA MENURUT PERJANJIAN BARU


GEREJA
MENURUT PERJANJIAN BARU
BY JONATHAN PATTIASINA

Definisi
• GEREJA bahasa PORTUGIS (Igreja)
• Jemaat bahasa INDONESIA
• Bahasa ALKITAB : Ekklesia (bhs Gerika)
Ek ---- = Keluar
Kaleo --= Dipanggil
• Ekklesia = Kelompok orang-orang yang dipanggil keluar, dikhususkan bagi Allah untuk suatu maksud yang mulia.

Apakah Gereja itu?
Mat. 16:18,....JemaatKu. " Ekkaleo"
Kata Ekkaleo yang merupakan akar kata dari Ekklesia yang punya pengertian "dipanggil keluar", merupakan istilah yang menunjuk kepada sebuah kelompok masyarakat yang dipanggil keluar, dan dipilih untuk berdiri di pintu gerbang untuk membuat/mengambil keputusan yang mempengaruhi sebuah kota.

I. KEINDAHAN JEMAAT
A. Kita disebut - I Pet.2:9
• Bangsa yang terpilih
• Imamat yang rajani
• Bangsa yang kudus
• Umat kepunyaan Allah

B. Yang telah keluar dari gelap pada terangNya yang ajaib
C. Dengan tujuan : memberitakan perbuatan- perbuatan yang ajaib dari Dia.
D. Memiliki kekuatan yang luar biasa - Mat.16:18
• Alam maut tidak berkuasa atasnya
• Kunci Kerajaan Sorga & otoritas ada dalam tangannya, ay19.
• Memberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah pada pemerintah-pemerintah dan penguasa - Eps. 3:10

E. Jemaat yang cemerlang tanpa cacat atau kerut(tidak bercela). Eps.5:27.

II. KIASAN TENTANG GEREJA
A. Tubuh Kristus - Eps.1:22-23;4:15-16
B. Keluarga Allah - Eps.2:19
C. Bangunan Allah - Eps.2:20-22
D. Mempelai wanita - Eps.5:23-3
E. Laskar Kristus - Eps.6:10-18

III. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN GEREJA PERJANJIAN BARU


A. Sekelompok orang bukan bangunan.
I Pet.2:5; Eps.2:19-20; II Kor. 6:16-18
1. Suatu umat yang terikat janji
2. Batu yang hidup untuk pembangunan rumah rohani.
3. Pertemuan berlangsung di rumah-rumah

B. Bukanlah suatu pertemuan bersama yang hanya beberapa jam saja tetapi saling membagikan hidup secara tetap (sharing of life).
1. Kepunyaan mereka kepunyaan bersama - Kis.2:44-47.
2. Pertemuan mereka secara tetap dan terus - Kis.5:42
3. Selalu bersekutu dengan yang lain - Mat.18:19-20.

C. Suatu organisme bukan organisasi.
1. Organisasi memperhatikan penampilan, seluk beluk mekanisme lebih daripada hidup itu sendiri (organisme),.
2. Organisme Jemaat Perjanjian Baru, sama seperti tubuh manusia yang hidup yang setiap anggotanya mendapat kehidupan dan perhatian dari bagian-2 yang lain.
a. Menderita & bersukacita bersama - I Kor.12:18-27, Gal.6:2
b. Melayani satu sama lain - Gal.5:13;Pil.2:3-4, Ibr.10:24,25;3:13, I Pet.4:10
c. Menjadi terikat bersama - Eps.4:16; Kol.2:18-19
• dari lahir sampai mati kita butuh orang lain
• kita tidak bisa hidup sendiri
d. Menolak dosa dari kehidupan kita - Yak.5:16,19,20, Mat.5:23-24;Yud.23-24
3. Kristus sebagai kepala, menanam dan menetapkan otoritas didalam tubuhNya melalui mereka yang melayani.
• Efesus 1:22,23 ; 4:11-12
• Mat 20:25-28
• I Pet 5:2-3

D. Jemaat Perjanjian Baru bukanlah suatu penyanyi tunggal atau soloist tetapi simfoni bersama dimana Kristus sebagai pemimpin orkes.
1. Allah kehendaki Jemaat Perjanjian baru menjadi suatu tubuh yang terdiri orang-orang percaya yang dipersatukan dalam roh dan mempunyai satu tujuan dan pikiran yang sama. Fil 2:1,21 & Roma 15:5,6
2. Cara tradisional mengajarkan bahwa semua macam pelayanan dimulai dari gembala Gereja tersebut (one man show). Konsep Perjanjian Baru melibatkan semua atau seluruh anggota gereja dan bekerja sama sehingga semua dapat mencapai kesatuan iman dan kedewasaan penuh. Eps 4:11-16 ; Roma 12:6-8 ; I Kor 14:26 ; I Kor 12:17-19

IV. METODE PERTUMBUHAN GEREJA PERJANJIAN BARU
A. Doa. Kis 1:12-14
B. Kuasa Roh Kudus. Kis 1:8 ; 2:1 dst
1. Terbuka terhadap pergerakan Roh Kudus.
2. Peka terhadap suara Roh Kudus.

C. Win, Build, Send.
• Menangkan - win - P.I.
• Bina - Build - Melalui pemuridan dan menanam untuk bertumbuh dalam gereja lokal.
• Utus - send - menyadarkan setiap kita = Ambasador atau duta Kristus. II Kor 5:20
- P.I.
- Perintisan jemaat.

Selasa, 04 Maret 2008

KORELASI ANTARA INTEGRITAS DAN OTORITAS



Korelasi antara integritas dan otoritas

Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun
mereka dengan kecakapan tangannya (Mazmur 78:72).

So he shephered them according to the integrity of his heart, and guided
them by the skillfulness of his hands (New King James Version).

Salah satu isu utama kepemimpinan adalah memimpin dengan integritas.
Kepemimpinan rohani berjalan karena pemimpin menerima ketundukkan sukarela
dari yang dipimpin. Dan ketundukan sukarela datang karena kepercayaan. Namun
sudah pasti kepercayaan akan datang karena integritas. Kejujuran...kemurnian dari
bagian hati paling dalam. Otoritas tanpa integritas adalah kepemimpinan palsu.
Sebesar apapun otoritas struktural tanpa integritas hanya akan menghasilkan
kepemimpinan yang tersunat pengaruhnya. Kemudian lahirlah ketundukkan palsu,
bukannya ketundukkan yang lahir karena respek. Kepemimpinan rohani adalah satu-
satunya jenis kepemimpinan di dunia yang tidak dapat memaksakan otoritasnya.
Otoritas rohani hanya bisa berjalan dengan bersanding bersama integritas. Bos di
perusahaan memakai uang sebagai salah satu alasan otoritasnya dijalankan terhadap
karyawan. Hakim di pengadilan memastikan otoritas jabatan yuridisnya dengan
ketokan palu di meja ruang pengadilan. Polisi lalu lintas menjadi pemimpin di jalan
raya dengan menyandang seragam dan pistol atas nama negara untuk memastikan
semua pemakai jalan raya mematuhi semua peraturan lalu lintas. Tetapi dapatkah
pemimpin rohani memaksakan otoritasnya?
Beberapa kepemimpinan gaya dunia yang mungkin sekarang sedang mengincar
tengkuk kita -gereja- atau malah kita sudah terjerembab ke dalamnya:
* Menggunakan intimidasi . Hanya menunggu waktu saja sampai orang yang
dipimpin kehabisan energi untuk hidup dalam ketakutan dan luka kemudian
memberontak untuk keluar dari praktek sihir tersebut.
* Memimpin dengan pengetahuan akan segera berakhir tatkala sang pemimpin
tidak menghidupi lagi apa yang dia ketahui.
* Memimpin dengan manipulasi yang tak disadari "pengikut". Dengan mudah
mengeksploitasi orang di sekitarnya untuk memenuhi agenda dan ambisi
pribadinya. Proses manipulasi tersebut mungkin akan segera berakhir saat
orang menyadari tipu muslihat dan motif terselubung si pemimpin.
* Memimpin dengan kharisma tanpa karakter yang kuat.
Setelah tontonan kharisma usai dan pemimpin tidak mampu menunjukkan
karakter dan integritasnya dalam keseharian mereka maka sebentar kemudian
akan ditinggalkan banyak orang. Sudah sering kita mendengar contoh pemimpin
kharismatis yang ditinggal orang karena integritasnya soal keuangan atau
moralitas.

Kita belajar dari Perjanjian Baru bahwa Petrus telah terjatuh ke dalam
ketiadaan integritas. Petrus telah meluangkan waktu 3 tahun bersama Yesus. Ia
telah berjalan di samping Yesus dan menyaksikan mujizat-mujizat-Nya. Ia telah
menerima tugas dari Allah untuk menyampaikan Injil kepada orang-orang kafir. Ia
telah menerima kunci Kerajaan Allah. Namun Petrus masuk ke dalam suatu situasi
dimana ia tidak memiliki cukup integritas. Tidak peduli apakah kita seorang
pengajar, pengkotbah dan pelayan Tuhan selama bertahun-tahun, adalah mudah
bagi kita untuk merusak prinsip integritas. Namun kita tidak perlu jatuh ke dalam
pelanggaran kemunafikan ini.
“Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya,
sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia
makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah
mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan
saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku
munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan
mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan
kebenaran Injil, aku berkata Kepada Kefas dihadapan mereka semua: Jika engkau,
seorang Yahudi, hidup secara kafir, dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah
engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara
Yahudi?” (Galatia 2:11-14).
Petrus telah bertindak secara munafik. Ia lebih peduli untuk terlihat benar di depan
orang percaya Yahudi dari Yerusalem daripada memelihara kesaksian Kristennya di
depan orang-orang kafir yang ia layani. Ia mengikuti trasdisi dan aturan-aturan
manusia - dan dengan melakukannya ia memperlihatkan dirinya sebagai orang
munafik. Ketakutan terhadap orang-orang agamawi itulah yang menyebabkan dia
jatuh ke dalam perangkap ini. Ia tampaknya mengubah perilaku menurut jenis
kumpulan orang yang ada di sekitarnya. Dalam kasus Petrus tersebut, Paulus
menghadapi Petrus secara terbuka dalam masalah yang berhubungan dengan
perilaku munafiknya dan menunjuk kepadanya kebodohan dari tindakan-
tindakannya. Paulus, anggota terbaru dalam kalangan rasul-rasul, memutuskan
untuk menantang Petrus karena kepura-puraannya Petrus telah memilih kembali
kepada legalisme Yahudi.

Kepemimpinan rohani hanya bisa berjalan dalam hubungan kepercayaan yang
kuat-antara pemimpin dengan yang dipimpin- yang disebabkan sang pemimpin
hidup dalam integritas dan kemurnian. Keteladanan yang muncul karena telah
menghidupi "kebenaran dalam batin" (Mazmur 51:8) akan menjadi kekuatan
kepemimpinan yang tak tergantikan oleh cara apapun. Hanya mereka yang murni
dan jujur saja yang dapat berkata di depan orang banyak seperti Paulus yang
berkata: "Ikuti teladanku!" (Filipi 3:17). Kepercayaan yang muncul karena integritas
dan kejujuran dalam kepemimpinan akan mengoptimalkan kekuatan hubungan yang
pada gilirannya akan menuntaskan semua visi dan misi bersama.

Lebih lanjut soal Integritas

Telah menjadi suatu kebiasaan normal bagi beberapa orang untuk mengenakan
topeng dan membuat orang lain mengira mereka hidup lebih baik dibanding yang
sesungguhnya tetapi sebenarnya itu merupakan gejala kurangnya integritas untuk
tampil beda dari yang sesungguhnya... berpura-pura dengan kerohanian palsu! Perlu
adanya pengajuan pertanyaan kepada kita terus menerus yang dapat
mengembangkan semacam "kewaspadaan" mengenai hal tersebut: Apakah Anda,
entah sadar atau tidak sadar, menciptakan kesan bahwa Anda adalah seorang yang
lebih baik dari diri Anda yang sesungguhnya? Apakah Anda telah berusaha untuk
tampil lebih baik dari diri Anda yang sesungguhnya? Anda munafik? Seharusnya
ada kesadaran untuk menjadi utuh secara moral tanpa kepalsuan. Konsekuensinya
jelas, bahwa orang yang tidak memiliki integritas akan kehilangan kepercayaan dari
orang-orang di sekitarnya, tidak peduli hal-hal lain yang telah ia kerjakan dalam
hidupnya. Bagi beberapa orang, kelihatan baik lebih penting daripada berbuat baik!
Mereka terperosok pada sikap menyenangkan orang lain sehingga mereka rela
membuat keputusan "yg kelihatan baik" dengan melakukan hal-hal yang
menunjukkan tidak adanya integritas.
Rasul Paulus berkata: "Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada
kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." (Galatia 2:21).
Apa yang sedang dikatakan Paulus adalah bahwa jika seseorang kembali ke
legalisme,ia kembali terikat pada hal-hal tertentu yang harus ia katakan atau
lakukan supaya kelihatan baik. Itu sama dengan menyia-nyiakan kasih karunia
Allah! Orang yang berusaha terlihat rohani tetapi sebenarnya tidak terbukti sedang
menolak kasih karunia Allah. Dia membangun kebenaran "kosmetik", bukannya
"kebenaran dalam batin" (Mazmur 51:8). Orang-orang yang berintegritas tetap sama
dalam situasi kecil ataupun besar. Mereka ada disana ketika hari panas ataupun
hujan. Ia tidak berubah-ubah ketika terjadi badai, aniaya dan halangan apapun. Kita
perlu hidup dalam integritas dan kejujuran setiap waktu, khususnya dalam rumah
tangga kita. Mengakui kesalahan kita dan meminta pengampunan dari mereka
ketika kita melakukan kesalahan merupakan tanda integritas yang berbicara lebih
keras dan jelas.

Beberapa hal yang akan menguatkan dan menumbuhkan integritas:
* Temukan orang yang berani menantang kita jika kita keluar jalur, berikan ijin
untuk memasuki lingkungan pribadi dan berbicara tentang kehidupan kita jika
diperlukan (Galatia 2:11). Temukan penantang ... seperti Paulus menantang
Petrus dan nabi Natan menantang Daud!

* Jadilah orang yang punya rasa aman.
Orang yang hanya berusaha menyenangkan org lain adalah pemimpin yang
buruk, rasa ketidak-amanan selalu memimpinnya untuk berperilaku munafik.
(Galatia 2:12)

* Jadilah konsisten.
Kenalilah bidang-bidang ketidakkonsistenan kita dan memohon kasih karunia
untuk mengubahnya. (Galatia 2:14)

* Kotbahkan prinsip-prinsip, bukan hanya aturan-aturan.
Jauhilah legalisme yang terfokus kepada kebenaran diri bukan pada iman.
(Galatia 2:15)

Selanjutnya? Jika sebagai seorang pemimpin kita merasa teguh berdiri maka kita
perlu berhati-hati agar tidak jatuh. Sebaliknya menjadi semakin rendah hati, tetap
menjaga hati dan gentar di hadapan Tuhan.

PERTAHANKAN INTEGRITASMU!!

-Cornelius Wing-

Jumat, 29 Februari 2008

MEMBANGUN ORANG & PERGERAKAN


MEMBANGUN ORANG DAN PERGERAKAN DARIPADA
MEMBANGUN "KARIR ROHANI"

Seringkali kita lihat di Alkitab Yesus menghindari orang banyak untuk
berdoa secara pribadi. Setiap kali orang mau membuat Dia jadi bintang
terkenal maka Dia lari untuk berdoa. Ketika mereka ingin menjadikan Dia
raja karena Dia bisa "membuat roti" maka Ia pergi berdoa (Yohanes 6:15).
Waktu mereka mau menjadikan Dia terkenal sebagai penyembuh, maka
dikatakan bahwa Yesus meninggalkan khalayak ramai dan pergi berdoa
sehingga Dia bisa punya prioritas utama, berbicara dengan Bapa. Ia pergi
kepada Bapa, seakan berkata: “Bapa, orang-orang telah membuat-Ku jadi
bintang dan telah menaruh bintang-bintang di pundak-Ku. Mereka telah
memberi-Ku gelar. Bapa, ambil itu dari-Ku, biar aku jadi Anak saja. Aku
tidak menginginkan apa yang orang-orang bisa berikan. Aku hanya mau
apa yang diberikan Bapa”.
Ini penting! Banyak orang terima pujian kemudian mulai “naik” dan
terus naik sampai menjadi korban dari kesuksesannya sendiri dan
akhirnya terkunci di posisinya, tidak bisa turun lagi dari posisi yang
diberikan oleh manusia. Itulah sebabnya Yesus menjalani hidup yang
disebut Pengunduran diri strategis. Dia mengundurkan diri dari sanjungan
dan pusat perhatian orang banyak. Sering sehabis menyembuhkan orang
sakit Dia menyuruh orang tersebut tidak memberitahukan hal itu kepada
orang banyak. Alangkah berbedanya apa yang Yesus jalani dengan mimpi
dan gairah kebanyakan orang-orang Kristen dan pelayan-pelayan Tuhan
hari ini …
Walaupun bisa, Yesus bahkan tidak pernah membangun denominasi …
Dia lebih tertarik membangun pergerakan … membangun hubungan-Nya
dengan Bapa … membangun orang-orang. Disanalah Dia investasikan
hidup dan energi terbaik-Nya. Itulah gairah utama-Nya. Jauh dari kesan
cari nama.
Apa yang sedang kita bangun?


- CORNELIUS WING -

Senin, 25 Februari 2008

GEREJA YANG TERDIRI DARI DUA TIGA ORANG



GEREJA YANG TERDIRI DARI DUA (TIGA) ORANG
Kepada gereja Tuhan yang terkasih,

Berapakah jumlah terkecil kumpulan orang Kristen dapat disebut sebagai gereja?

Sulit untuk menemukannya di dalam Alkitab selain angka dua. “Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul di dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Matius 18:20. Menurut pendapat saya, dapat dikatakan bahwa salah satu bentuk gereja mula-mula melibatkan dua orang percaya. Ini merupakan gereja yang terdiri dari dua atau tiga orang.

Dalam tradisi Yahudi diajarkan bahwa 10 orang pria dewasa memenuhi syarat untuk diadakannya sebuah pertemuan dalam sinagoge. Ini disebut sebuah minyan atau kuorum. Beberapa sarjana theologia percaya bahwa Yesus menjelaskan “minyan”Nya (syaratNya) di dalam Matius 18:20. Syaratnya hanya dua atau tiga orang, dan tidak wajib hanya pria yang bertemu.

Mengapa hal ini penting?

Sebab fungsi dari bentuk dasar gereja memiliki implikasi besar bagi kesehatan dari bentuk gereja yang lebih besar lagi. Kebenaran ini sama dengan fungsi tubuh fisik kita. Bilamana seluruh jaringan sel dalam hati kita sehat dan berfungsi dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa hati kita sehat. Namun apabila, beberapa jaringan sel itu tidak sehat atau tidak berfungsi dengan baik, hati kita akan bermasalah. Bila ekspresi gereja dalam bentuk terkecilnya sehat dan berfungsi secara baik, maka bentuk gereja di dalam kelompok yang lebih besar akan membawa kita dalam pengalaman yang lebih menyehatkan.

Apakah fungsi-fungsi dari Gereja Yang Terdiri dari Dua atau Tiga orang?

Pengkhotbah 4:9-12 memberikan pada kita 4 fungsi yang vital yang dapat dicapai di dalam gereja dalam ukuran kecil ini. Mungkin Yesus sedang memikirkan ayat ini saat Ia menjabarkan bagaimana dua atau tiga orang berkumpul di dalam NamaNya. Mungkin Ia memiliki pemikiran ini saat Ia mengutus 72 muridNya berdua-dua untuk menanam gereja di dalam Lukas 10:1.

Pemikiran mendasar : “Berdua lebih baik dari seorang diri saja” (ayat 9) Mengapa?

Empat alasan:

1. Berbuah di dalam pelayanan. "Karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka” (ayat 9). Seringkali dua orang yang bekerjasama dalam sebuah tim dapat lebih produktif daripada dua orang bekerja secara terpisah. Cara kerja sebuah kesatuan lebih berdampak daripada hanya perbagian, meski mungkin hanya dua bagian yang menjadi satu. Ini merupakan sinergi kekuatan. "Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu (sekalian – plural) berbuah banyak.” (Yohanes 15:8)

2. Mengatasi kegagalan. "Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (ayat 10) "Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal” Yakobus 3:2 Apa yang terjadi bila tidak ada seorangpun yang cukup dekat dengan kita yang tahu apa yang terjadi dalam hidup kita? Apa yang terjadi bila tidak ada seorangpun yang akrab dengan kita hingga kita tidak menolong siapapun karena ketidaktahuan kita? Kita atau pribadi itu akan terjerembab dalam waktu yang lama dalam pergumulan itu.

3. Semangat. "Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? (ayat 11). Dalam bahasa asli “menjadi panas” (zeo) itu berarti mendidih, mendesis akibat amat panas, agar panas. Dua orang besama dapat membangkitkan kegairahan masing-masing. Seorang diri saja dapat mudah kita menjadi patah semangat atau dingin. Dalam Roma 12:11 dikatakan Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor atau dalam Alkitab Bahasa Inggris dikatakan "Never lacking in zeal (janganlah kiranya semangatmu berkurang)." (Rom. 12:11)

4. Peperangan rohani. "Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan.” (ayat 12). "Lawanlah Iblis" (Yakobus 4:7) merupakan perintah berbentuk jamak. Hidup menyendiri sebagai orang Kristen akan mengakibatkan kita dengan mudah ditaklukkan oleh musuh.

Gereja rumah bukanlah bentuk terkecil dari ekspresi gereja. Ini merupakan perbedaan antara gereja rumah dan gereja yang terdiri dari dua atau tiga orang. Sebenarnya saya percaya bahwa kelompok dua atau tiga orang ini, akan berjalan sangat akrab/dekat, menghidupi empat alasan di atas maka mereka akan menjadi batu yang hidup bagi gereja rumah yang sehat.

Bayangkan bila tiap orang dalam gereja rumahmu berhubungan sangat akrab satu dengan yang lainnya dan mengimplementasikan 4 fungsi di dalam Pengkhotbah 4. Bukankah hal itu akan membawa sebuah perubahan?

Ditulis oleh John White (DAWN Ministries)
Diterjemahkan oleh Dave Broos, associate minister DAWN Ministries & Outreach Fellowship International, mengembangkan penanaman gereja rumah/ organik dan penjangkauan kaum subkultur (Shadow of the Cross) di Indonesia.

Jumat, 15 Februari 2008

BAU TAK SEDAP OTORITARIANISME DALAM GEREJA

BAU TAK SEDAP OTORITARIANISME DALAM GEREJA

Kepemimpinan pada strata "puncak piramida" dalam kehidupan bergereja sering mengidap ‘penyakit kekuasaan’. Dunia juga tahu bahwa pusat kekuasaan selalu rentan dan tidak imun terhadap korup ; makin melimpahnya kekuasaan maka makin terbuka lebar kemungkinan penyalahgunaannya. Praktek manipulasi, dominasi bahkan intimidasi makin tumbuh subur. Entah pada ujung-ujungnya berhubungan dengan keuangan, moralitas atau arogansi. Sering para elite rohani menegaskan bahwa otoritas mereka diperlukan untuk mengontrol dan menjaga kawanan. (Meski disisi lain juga mengundang pertanyaan tentang siapa yang mengontrol mereka? Apakah mereka kebal dosa? Bisa meng"excuse" kesalahan sendiri karena statusnya adalah mandataris Tuhan dan cenderung "tidak bisa salah" ? Kepada siapa secara pribadi mereka memberikan pertanggungjawaban atas keuangan dan moralitas? ). Perlu terus menjadi kritis mengenai seberapa jauh implikasi dan aplikasi soal topik bahasan tersebut supaya kebenaran tentang otoritas tidak diserongkan dan proses pembodohan terus terjadi. Jika ketidak-seimbangan mengenai hal tersebut tidak terkoreksi maka pada akhirnya otoritarianisme akan tumbuh subur dalam gereja. Proses memberdaya(kan) sering melenceng menjadi proses memperdaya. Apa akarnya? Meski tidak semua akar permasalahannya bisa diungkapkan dalam coretan singkat ini tetapi pada hemat penulis salah satu akar masalahnya adalah pemahaman yang tidak seimbang tentang prinsip penundukan diri dalam Ibrani 13:17 di kalangan pemimpin rohani. Ungkapan ‘tunduk dan taatilah pemimpinmu’ pada ayat tersebut telah dipahami bahkan diterapkan pada konteks yang kurang tepat, sekaligus menjadi senjata ampuh yang digunakan dalam proses manipulasi dan intimidasi terhadap jemaat/pengikut demi kepentingan sepihak, sang pemimpin. Ada baiknya menjadi jujur tentang situasi tersebut dan melakukan studi serta kajian lebih mendalam lagi. Karena perilaku dibentuk oleh apa yang kita tahu, maka salah pengetahuan berarti salah kelakuan. Hidup kita dibentuk oleh berita yang kita dengar dan hayati. Kebenaran soal kepemimpinan dan penundukan diri pun harus dilihat pada sudut pandang yang seimbang. Kalau kita melihat kata Yunani yang relevan dengan kekuasaan/otoritas rohani maka kata tersebut adalah: exousia. Kata ini biasanya diterjemahkan sebagai 'kekuatan (power)' atau pun 'kekuasaan (otoritas)', dalam bahasa Inggrisnya adalah 'authority'. Yang menarik adalah bahwa pada Perjanjian Baru, tidak disebutkan bahwa seorang percaya mempunyai 'kekuasaan/otoritas/exousia' seorang terhadap yang lainnya (sekalipun memiliki otoritas atas banyak hal yang lain). Kita punya otoritas/kekuasaan terhadap hal-hal, dan bahkan roh- roh di udara, tetapi tidak pernah terhadap orang Kristen lainnya. Hal ini menimbulkan debat yang mengejutkan mengenai kepemimpinan dan otoritas/kekuasaan rohani. Raja-raja mempunyai otoritas/kekuasaan terhadap subjek mereka; Paulus mempunyai otoritas/kekuasaan dari para imam untuk menganiaya gereja (Kisah 9:14, 26:10-12). Tetapi semua itu dari luar gereja. Di dalam gereja, seorang percaya tidak pernah dikatakan mempunyai exousia terhadap yang lainnya, tanpa memperhatikan posisi atau pun wibawa mereka. Siapakah yang harus seseorang patuhi? Di sini, jawabannya menarik juga. Jika kita mengamati penggunaan kata “hupakouo”, yang merupakan bahasa Yunani yang berarti 'obey/patuh/taat' maka kita akan menemukan bahwa kita harus mentaati Tuhan, Injil (Roma 10:16) dan pengajaran para rasul (Filipi 2:12, II Tesalonika 3:14). Anak-anak mentaati orang tua mereka, dan hamba kepada tuannya (Efesus 6:1, 5) Apakah hubungan antara orang percaya terhadap para pemimpin jemaat ada dalam konteks "ketaatan" tersebut ? Jika seperti itu, maka hal tersebut tidak dikatakan dalam Perjanjian Baru. Bagaimana dengan teks dalam Ibrani 13:17, yang berkata: 'taatilah pemimpinmu?' Teks ini menarik, karena memberikan pengertian yang dalam mengenai pengertian kepemimpinan dalam Perjanjian Baru. Keterangan sebelum ini sudah menekankan sisi negatifnya -- bahwa mereka tidak punya otoritas/kekuasaan rohani dalam arti yang biasanya, dan bahwa orang percaya tidak dikatakan harus mentaati mereka, dalam kerangka pengertian "exousia". Bagaimanapun juga, Perjanjian Baru bersikeras bahwa ada pemimpin-pemimpin dalam jemaat lokal dan kehadiran serta pelayanan mereka penting bagi kesehatan dari jemaat. Masalahnya adalah pada konsep kepemimpinan itu sendiri; bersumber dari kebenaran rohani atau konsep kepemimpinan yang dari duniawi? Ada petunjuk dalam Ibrani 13:17. Jika Anda mengamati kata kerja yang diterjemahkan menjadi 'obey/mentaati', Anda akan menemukan kata 'peitho' yang berarti 'membujuk'/persuasi. Dalam bentuk kata yang dipakai di sini (middle-pasif) berarti sesuatu seperti 'biarkan dirimu dibujuk oleh' atau 'mempunyai kepercayaan dalam'. Sekarang ini sangat membantu. Orang-orang percaya harus membiarkan diri mereka untuk dibujuk oleh para pemimpin mereka. Pemimpin diberi kehormatan tertentu yang membuat kata-kata mereka lebih berbobot dari yang sebenarnya mereka punyai dalam dan dari diri mereka sendiri. Memiliki kemampuan persuasif. Dan para jemaat yang lain harus condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. Kita harus membiarkan diri kita untuk dibujuk oleh para pemimpin -- tidak untuk mentaati mereka membabi buta/tanpa berpikir, tapi berdiskusi dengan mereka sementara kita condong untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. . Kata kerja lain yang digunakan dalam Ibrani 13:17 menguatkan kesimpulan ini. Ketika teks ini mendesak orang-orang untuk tunduk pada pemimpin, ini tidak menggunakan jenis kata dalam Perjanjian Baru untuk kata 'submit / tunduk' yang kata aslinya adalah “hupotassomai”, yang bermakna konotasi: sesuatu seperti menaruh diri sendiri dalam suatu organisasi di bawah pimpinan orang lain. Kata itu berbeda. Ini adalah “hupeiko”, bukan hupotassomai dan ini hanya muncul sekali dalam Perjanjian Baru. Ini berkonotasi bukan suatu struktur di mana kita tunduk, tetapi suatu peperangan dimana setelah itu orang menyerah/mengalah. Gambarannya (bila dalam kemiliteran) adalah suatu diskusi yang serius, suatu pertukaran tempat ketika suatu partai menyerah. Ini lebih kepada membiarkan diri kita dibujuk oleh pemimpin-pemimpin jemaat, daripada tunduk tanpa perlawanan pada mereka seperti yang kita lakukan pada kekuasaan dan struktur kehidupan yang ada. Hal ini menjadikan masuk akal dengan kriteria pemimpin dalam surat-surat pastoral. Karakter adalah hal terpenting bagi pemimpin -- mereka harus 'dapat-dihormati’. Jika mereka seharusnya menjadi 'pembujuk', itu berarti mereka harus dengan sangat unggul dapat dihormati, karena orang jenis inilah yang cenderung kata-katanya dapat dianggap serius/penting. Jenis dari 'kemampuan untuk dapat dihormati' yang diuraikan di sana meminjam arti kata kredibilitas dari pemimpin, karena itu memberi kita kepercayaan untuk membuat kita membuka diri sebagai jemaat untuk dibujuk oleh mereka. Bukannya menuntut penghormatan berlebihan atas otoritasnya sementara kehidupannya tidak berkarakter dan kredibel. Kita harus mengambil ide tentang kepemimpinan dari Perjanjian Baru, bukan dari dunia. Maka, kita harus memulai bukan dengan konsep duniawi dari kepemimpinan, tetapi dengan ide alkitabiah dari kata 'pembujuk' dan mencoba untuk menerapkannya dalam situasi sehari-hari kita. Benar bahwa orang yang olehnya jemaat dibujuk, menerima sejenis penghormatan dan kekuasaan/ otoritas.Tetapi ini bukan kekuasaan yang membabi buta seperti praktek dari banyak otoritas/ kekuasaan rohani dewasa ini. Kita sudah melihat bahwa otoritas rohani itu berdasarkan kepercayaan yang sungguh-sungguh pada pemimpin. Tapi pemimpin juga berdasar pada kebenaran. Pemimpin jemaat harus mencintai kebenaran dan benci untuk didengarkan ketika mereka tidak menunjukkan integritas dan kredibilitas sejati. Lebih lagi, kebenaran itu penting sekali dalam ke-persuasif-an pemimpin. Tapi persuasif menuntut adanya dialog; dan dialog membutuhkan keaktifan partisipasi dari semua jemaat. Seorang pemimpin yang punya karisma untuk membujuk orang untuk melakukan yang tidak benar, dan melakukannya, itu jahat/sihir. Dan buruk juga, jemaat yang mengikuti secara membabi buta. Terbujuk pada suatu kebohongan adalah bentuk terburuk dari perbudakan. Pemimpin-pemimpin dalam jemaat terikat dengan kebenaran dan melayaninya jauh di atas pelayanan mereka terhadap yang lain. Dan jemaat terikat dengan tanggung jawab untuk berdialog mengenai kebenaran. Kepercayaan yang ditimbulkan oleh pelayanan itu berbahaya jika tidak dikoordinasi dengan ketundukan pada kebenaran Injil. Jika kebenaran dan kepercayaan tidak berjalan bersama-sama dalam dasar kepemimpinan dalam jemaat, maka kepercayaan yang diciptakan dalam pelayanan ini akan menjadi suatu bentuk yang jelas dari kekuatan-kekuatan yang kita sebut manipulasi. Kepemimpinan Kristen yang murni, berdasarkan pada kebenaran dan kepercayaan, tidak pada kepemimpinan gaya dunia. Kepemimpinan dalam jemaat disebut sebagai kehidupan pelayanan yang dapat-dihormati. Kehidupan yang kredibel dan berintegritas seperti itu menimbulkan kepercayaan dari orang lain. Pemimpin, seperti semua anggota Tubuh Kristus, tunduk pada kebenaran dan hidup dalam kebenaran yang adalah Kristus sendiri. Seharusnya otoritarianisme kepemimpinan dan pasifnya kepengikutan tidak ada dalam kehidupan bergereja kita. - Cornelius Wing -

Minggu, 03 Februari 2008

Bunuh Lembu Emasmu

BUNUH “LEMBU EMAS” MU!“… sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api- supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun …” Ulangan 4:15-16 Peringatan Tuhan dalam Perjanjian Lama kepada bangsa Israel tersebut ternyata tidak ditaati. Mereka malah membuat patung anak lembu emas di Horeb. Mereka menukar kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput. Seperti bangsa Israel maka sebagian dari kita sering membangun rasa aman kita dengan menyembah sebuah bentuk yang dapat kita lihat dan sentuh. Ketakutan dan ketidakamanan kita seringkali mendorong untuk membuat “patung lembu emas” kita sendiri. Jika kita takut menjadi miskin maka “uang” akan menjadi “patung emas” yang kita sembah. Jika kita takut gagal maka “sukses”lah yang akan menjadi berhala kita. Atau jika kita takut sendirian maka sebuah “hubungan” akan kita jadikan patung tuangan kita.Pada dasarnya manusia terlalu mudah diperhamba oleh bentuk-bentuk. Konflik, peperangan dan pertumpahan darah sepanjang sejarah antara orang Kristen dan penyembah berhala, orang-orang Muslim dengan Yahudi, orang Katolik dan Protestan telah menunjukkan bahwa kita sesungguhnya telah membuat patung emas dari “agama” dan “denominasi” kita. Yesus tidak secara sungguh dipengaruhi oleh bentuk fisik sama sekali (bahkan tubuh-Nya secara fisik).Dia terus bergerak dalam pekerjaan mujizat sementara orang memperingatkan Dia: “Tetapi, Guru, dia berbau busuk!”, saat Dia mulai membangunkan Lazarus yang sudah 4 hari mati. Yesus mengetahui bahwa semua bentuk itu sementara dan relatif. Seperti nats berikut mengatakan : “Gemetarlah, hai bumi, di hadapan Tuhan, di hadapan Allah Yakub, yang mengubah gunung batu menjadi kolam air, dan batu yang keras menjadi mata air” (Mazmur 114:7-8).Ketika dikatakan kalau keluarga-Nya mencari Dia, Yesus mengatakan bahwa keluarga-Nya bukanlah yang lahir dari darah, tetapi dari pilihan.“Keluarga-Ku adalah mereka yang melakukan kehendak Tuhan” (Matius 12:46-50). Tuhan itu tidak terikat pada bentuk. Setelah Saul membuktikan kalau dia tidak dapat memimpin maka Tuhan kemudian mencari pria lain yang bernama Daud dan menyiapkan dia untuk jadi raja. Tuhan mengubah bentuk yang satu kepada bentuk yang baru … seorang pemimpin yang lebih bertanggung jawab, yang tidak akan memerintah dengan cara yang kuno dan mendominasi (1 Samuel 15:17-28). “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Galatia 3:28). Bahkan alasan dan dasar dari hubungan-hubungan pun adalah Kristus, bukan bentuk-bentuk. Warna kulit dan latar belakang sosial adalah bentuk yang sementara. Bentuk membatasi kita. Bentuk adalah sementara. Hanya Allah yang kekal. - CORNELIUS WING -